Jika kita sekarang memainkan lagu-lagu pop atau barat dengan angklung, apakah ini merusak citra asli angklung ?
Beberapa tokoh konvensional (yang pernah menjadi
murid pertama Pa Daeng dan belajar lagu angklung asli seperti lagu
daerah, keroncong, latin) semula menganggap bahwa hal ini merupakan
penyimpangan, dan dianggap merusak citra angklung, karena Pa Daeng
tidak pernah mengajarkannya.
Untuk ini perlu rasanya kita menengok sedikit lebih jauh. Adapun yang
dirusak di sini adalah tradisinya. Tradisi angklung - seperti apa
adanya yang diajarkan Pa Daeng - diubah oleh kelompok muda saat ini
yang gemar akan lagu pop. Satu hal yang di luar kebiasaan kelompok tua,
sehingga mereka sulit menerima hal baru ini.
Celakanya, mereka yang baru ini masih dalam taraf belajar. Aransemennya
sendiri bahkan masih banyak yang tidak memenuhi kaidah ilmu harmoni
standar, yang disebabkan latar belakang musik mereka yang tidak
mengenyam bangku formal. (Padahal kenyataannya tidak banyak juga
tokoh-tokoh angklung saat ini yang mahir dalam ilmu harmoni.) Kondisi
inilah yang semakin membenarkan pendapat kelompok tua, yang menganggap
kelompok muda ini merusak dan mengacaukan tradisi angklung mereka.
Bila kita amati dari kacamata mereka, maka terlihat bahwa sebetulnya
anak-anak muda ini sedang mencoba menyesuaikan angklung dengan
zamannya. Saat ini musik yang sedang digemari anak muda adalah musik
pop. Karena itu mereka ingin dapat lebih menikmati musik angklung
mereka dengan cara memainkan lagu-lagu mereka sendiri, sehingga mereka
merasa puas dan akhirnya dapat menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan
mereka terhadap angklung.
Mungkin juga mereka menggunakan cara demikian karena mereka ingin
teman-temannya - generasi muda saat ini - mengubah pandangannya
terhadap musik angklung, dan mereka berharap teman-temannya itu akan
menjadi tertarik dan ikut bergabung dengan mereka.
Hal ini sesungguhnya tidaklah bertentangan dengan semangat
memberontaknya Pa Daeng saat ia memperkenalkan lagu-lagu wajib untuk
para pandu (pramuka) dan siswa, supaya dapat terpakai dalam
upacara-upacara dan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan siswa di
sekolah. Jadi sebetulnya Pa Daeng juga melihat kondisi tempat ia
menerapkan musik angklung saat itu.
Juga seperti yang dikemukakan Dr. Sudjoko di dalam Seminar Angklung
Nasional di ITB tanggal 26 Oktober 1989, bahwa Pa Daeng mempopulerkan
angklung dengan musik klasik dan latin pada tahun 50-an, karena
musik-musik itulah yang yang populer di kalangan masyarakat saat itu.
Sekali lagi Pa Daeng melihat kondisi saat itu dan menyesuaikan musik
angklungnya mengikuti perkembangan keadaan.
Bahkan dari sudut pandangan yang lain pun ternyata semangat Pa Daeng
dulu dan semangat anak muda saat ini tidaklah berbeda, yaitu menambah
alternatif bagi pecinta angklung untuk memilih musik pilihannya. Baik
Pa Daeng maupun anak muda sekarang, keduanya sama-sama menambah
khasanah musik angklung sehingga menjadi lebih luas, dan bukan
menggantinya.
Karenanya, boleh jadi semangat memberontak seperti ini adalah relevan
dengan semangat memberontak Pa Daeng saat ‘mengubah’ angklung
pentatonis menjadi diatonis. Dia membuat suatu revolusi dengan membuat
jalur baru di luar kebiasaan saat itu. Ia membangun dan membuat dunia
angklung menjadi lebih kaya.
Sejarah menunjukkan bahwa revolusi Pa Daeng saat itu memberikan dampak sebagai berikut:
- Angklung mulai terangkat kembali menjadi alat musik yang
terhormat. Terbukti dari didapatnya kesempatan tampil di acara
kenegaraan dan dunia.
- Angklung dijadikan alat musik pendidikan, karena mengandung unsur kerjasama, disiplin dan pengembangan karakter.
- Angklung dijadikan alat musik nasional. Hal ini terlihat dari
selalu ditampilkannya musik angklung jika ada kunjungan tamu asing,
atau saat rombongan kesenian mengadakan kunjungan muhibah di luar
negeri.
- Semakin banyak kelompok paduan angklung yang didirikan, terbukti
dengan munculnya angklung massal pada tahun 1961, 1981 dan 1984.
- Angklung dijadikan musik perdamaian, diplomasi dan persahabatan
dunia. Terlihat dimainkan sewaktu Konferensi Linggarjati dan
Asia-Afrika. Ini sesuai dengan suara angklung yang alamiah dan ciri
khas yang mengandung unsur kebersamaan.
Sedangkan dampak lain yang muncul dari pengembangan musik angklung
dengan lagu pop dan barat dapat dilihat seperti di bawah ini :
- Pandangan anak muda terhadap musik angklung mulai bergeser dari
tradisional ke modern, sehingga anak muda sekarang tidak lagi fobi
terhadap musik angklung, bahkan sedikit-sedikit mulai menyenanginya.
- Apresiasi pemain terutama dari kalangan generasi muda meningkat.
Hal ini terlihat dari kondisi pemain angklung di sekolah-sekolah yang
menggunakan lagu pop, peminatnya menjadi bertambah. (Namun demikian
keadaan ini baru terlihat di sekolah yang kelompok musik modernnya
[seperti paduan suara dan kelompok vokal] tidak berkembang. Di sekolah
lain, tidak selalu demikian keadaannya.)
- Konser Angklung Gabungan yang pertama pada tahun 1992, menarik
minat penonton yang kebanyakan generasi muda, dan kursi penonton tetap
penuh sesak dari awal sampai akhir pertunjukan.
Untuk tingkat festival sendiri, kehadiran lagu pop dimulai tahun 1983
dengan lagu Rumah yang Manis dari SMA Negeri 3 Bandung yang saat itu
menjadi juara. Pa Daeng yang saat itu hadir, bahkan memberikan
apresiasi yang khusus atas nomor baru di dalam dunia angklung ini. Saat
itu hanya 1 dari 13 peserta yang memainkan lagu pop. Keadaan
menunjukkan bahwa pada festival terakhir tahun 1991, hanya 2 dari 11
peserta festival yang tidak memainkan lagu pop! Saat ini dengan pelatih
angklung rata-rata muda (generasi baru), maka hampir semua kelompok
paduan angklung memiliki koleksi lagu pop.
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini generasi muda sangat menggemari
musik pop. Angklung yang saat ini semakin sedikit peminatnya, harus
menyesuaikan diri dengan keadaan. Jika tidak, angklung akan semakin
dijauhi generasi muda, karena sebagian diantara mereka memiliki
anggapan bahwa alat musik yang lahir dari musik daerah ini identik
dengan sesuatu yang kuno dan tradisional. Siapa lagi yang akan bangga
dengan alat musik karya cipta bangsa sendiri, kalau bukan kita sendiri
?
Memungkinkannya lagu pop diterima oleh masyarakat sebagai alternatif
lagu angklung tidaklah membuat para pelatih dan pengaransir angklung
dapat begitu saja memilih dan mengaransir lagu sesukanya. Mereka
dituntut untuk lebih selektif dalam hal memilih lagu, karena tidak
semua jenis lagu akan cocok dimainkan oleh angklung. Selain itu perlu
ada penyesuaian dalam aransemen dan penerapan ornamensi, agar aransemen
selalu tetap memenuhi kaidah-kaidah ilmu harmoni dan sesuai dengan
sifat musik angklung.
Belumlah dapat dikatakan, apakah semangat memberontaknya angklung
dengan musik pop saat ini sebagai revolusi angklung yang kedua.
Terjadikah revolusi angklung pada tahun 1983, setelah Pa Daeng
menciptakan yang pertama pada tahun 1938 ?
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.