Prinsip bunyi semacam itu adalah yang terbanyak digunakan dalam dunia alat-alat musik dan disebut GETAR PAKSAAN atau GEDWONGEN TRILDING. Juga dalam golongan dalam alat-alat lain, misalnya golongan CHORDOPHONE (alat-alat berkawat) banyak sekali terdapat contoh-contohnya: rebab, tarawangsa, kecapi, celempung, biola, cello, contrabass dan sebagainya.
Resonansi mutlak.
Lain sekali halnya dengan pringender. Pada gender, tiap-tiap wilah itu mempunyai resonator tersendiri, serta yang masing-masingnya telah “ditala”, dan disesuaikan frekuensinya dengan wilah yang bersangkutan. Artinya: Frekuensi getaran udara di dalam tabung itu HARUS SAMA dengan frekuensi wilah yang bersangkutan. (menurut istilah guru saya: HARUS SADJODO), dan itulah pula sebabnya, maka bunyi gender itu terdengarnya lebih mendengung dan lebih bulat daripada waditra-waditra gamelan yang lain. Prinsip “sadjodo” ini dalam ilmu suara disebut RESONANSI MUTLAK (UITGESPROKEN RESONANTIE).
Penjelasan Guru Tua. Sekarang kembali kepada guru saya yang sudah tua itu. Ia menerangkan, bahwa angklung itu prinsipnya sama dengan gender. (sekali lagi: Tidak sama dengan suling!) Yakni: Pada kedua alat tersebut terdapat dua bagian penting. Yang mentukan tinggi-rendah suaranya yaitu:
1. Sumber nada (toonverwekker)
2. Resonator (jodohnya)
Pada gender, sumber nadanya itu ialah wilayah yang diperbuat dari perunggu, dan resonatornya tabung yang dipasang di bawahnya (sesungguhnya: udara yang ada dalam rongga tabung tersebut itu). Pada angklung: Sumbernada = bambunya : resonator = udara yang ada di dalamnya.
Caranya kita menala tabung angklung, baik sumber-nadanya maupun resonatornya, ternyatalah tidak sesukar dugaan saya semula. Syarat-syaratnya pun mudah sekali, hanyalah: 1. Kesabaran dan kecermatan, 2. Sepasang telinga yang musical, 3. Sebilah pisau raut yang tajam.
Tinggi nada diteliti dengan cara mengetuk-ngetuk bakal angklung itu dengan pegangan pisau, dan terdengarlah bunyi tung, tung, tung. Dalam keadaan nada terlalu tinggi, maka pinggir bambu itu harus kita ambil (raut) sedikit, dan kalau kelewat rendah, ujungnya harus kita potong sebanyak yang diperlukan.
Menala resonator tidak semudah yang diterangkan di atas, karena dalam hal ini yang harus diteliti justru “udaranya”, bukan bambunya. Bila rongga tabung itu kita tiup, maka bergetarlah udara di dalam tabung itu, dan terdengarlah bunyi deru lemah, yang tinggi-rendahnya bergantung kepada dangkal-dalamnya tabung (besar kecilnya rongga).
Disini mudah kita mengerti, bahwa bilamana perlu, rongga tabung itu hanyalah dapat kita perkecil saja, yakni dengan mengorek (membuang sebagian) bibirnya. Tetapi memperbesar kembali tabung itu tidaklah mungkin karena bamboo itu tidak bisa kita tampal. Dengan kata lain: Frekuensi resonator itu hanya mungkin diubah menjadi lebih tinggi: kebalikannya mustahil.
Kembali kepada orang tua yang saya hormati itu. Dengan tekun dan penuh kesabaran, disertai curahan cinta seorang bapak kepada anaknya, ia telah mendidik dan membesarkan saya dalam bidang pengunaan angklung.
Bermacam-macam ilmu dan pengetahuan saya peroleh darinya. Dari orang tua itulah saya tahu apa yang disebut rancak, sundung, pupurus dan istilah-istilah lain semacam itu, bahkan belajar pula memainkan lagu-lagu kuno seperti: tonggeret, balaganjur, kacang buncis, dan sebagainya.
“Angklung Modern” diperkenalkan. 
Dalam bulan April 1938 saya pergi meninggalkan kota Kuningan menuju Bandung, dengan mengikut-sertakan 2 regu pandu-pandu yang saya pimpin sendiri.
Maksud keberangkatan ialah hendak ikut serta dalam perkemahan pada Padvinders Rally, yang diselenggarakan oleh P.O.P. (Padvinders Organisatie Pasundan) dalam rangka peringatan hari ulang tahun Paguyuban Pasundan.
Di lapang perkemahan pandu-pandu itulah “ angklung modern” tersebut pertama kali saya perkenalkan kepada umum: disaksikan oleh tokoh-tokoh Paguyuban dan tokoh-tokoh kepanduan, yang kebanyakan diantaranya telah meninggal dunia, seperti: alm. Otto Iskandardinata, alm. Otto Subrata, alm. Atik Suwardi, alm. Ir. Djuanda, alm. Prof. Gazali, bekas menteri P & K Sanusi Hardjadinata dan lain-lain.
Hanya beberpa hari saja, berselang setibanya saya kembali dengan selamat ke pangkalan saya di Kuningan, maka guru besar yang sangat saya cintai itu, budayawan yang telah mencurahkan hasil kerjanya kepada Nusa, Bangsa dan Dunia, dengan tenang meninggalkan negeri yang fana ini, memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa…
Tetapi namanya tetap hidup, angklungnya tetap berjiwa, bahkan kian hari kian bertambah subur, menyebar, menyebar, menyebar, terus…sampai ke Eropa, ke Australia, ke Amerika….
Oh, hampir lupa. BAPA DJADJA nama orang itu.
Daeng Soetigna mempunyai lima alasan untuk memperjuangkan kehormatan angklung sebagai suatu alat pendidikan. Kelima alasan itu disebutnya “Lima M” (mudah, murah, menarik, mendidik dan massal).
(1).
Mudah; dibandingkan dengan instrumen-instrumen lain, angklung termasuk yang termudah. Angklung tidak memerlukan manipulasi jari-jari yang rumit sehingga tidak memerlukan latihan-latihan yang bersifat teknis.
(2).
Murah; tidak perlu dibeli dengan harga mahal karena setiap orang dapat membuatnya dari bahan bambu yang mudah didapatkan.
(3).
Menarik; Setiap orang tertarik, terutama anak-anak.
(4).
Mendidik; Instrumen-instrumen musik mendidik orang-orang yang memainkannya. Dalam hal ini angklung termasuk unik. Karena angklung hanya dapat menghasilkan satu not, maka bermain angklung memerlukan suatu kerjasama yang kuat dan ini mengajarkan kepada anak-anak tradisi “gotong royong” kita dan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap kelompok. Dalam Orkestra Angklung tidak ada tempat bagi individu-individu tertentu untuk lebih menonjol daripada yang lain.
(5).
Massal; artinya dapat dilakukan secara massal. Jumlah peserta tidak dibatasi. Setiap orang dapat berperan serta tanpa memperhatikan benar bakat musik seseorang peserta. Sebagai contoh, dalam acara pembukaan PON V di Bandung 1961, Orkestra Angklung dimainkan oleh 1000 pelajar.
Only AWI Member can write comments.
Please login or register.