Untuk ayahnya yaitu Mas Kartaatmadja, ia menyebut “Ama” dan ibunya
yaitu Raden Ratna Soerasti ia menyebutnya “Endeh”. Catatan itu tidak
menyebut angka tahun, tetapi dengan menyebut peristiwa Cimarema, karena
itu diperkirakan pengalaman masa kecil dan sekolahnya itu tahun 1919,
jadi pada usia 11 tahun. Catatan pengalaman Daeng Soetigna ini mempunyai
arti sejarah yang cukup penting, tidak saja bagi dirinya sendiri,
tetapi juga bagi kita untuk menangkap gambaran zaman ketika itu, baik
antara hubungan orang tua dan anak-anak, hubungan guru dengan
murid-murid, sedikit tentang suasana politik dan Kota Garut. Daeng
ternyata suka menulis, suatu kebiasaan yang tetap dilanjutkan sampai
menjelang ia meninggal dan gayanya khas, humoristis. Supaya lengkap,
kita kutip tulisannya itu sebagai suatu autobiografinya yang belum
selesai.
ZAMAN APA BERSEKOLAH DI SEKOLAH RAJA
ANGAN-ANGAN AMA
“Ingin sekali rasanya seperti Mantri Guru Parigi”. Demikianlah ucapan
(buah bibir) Ama yang sering Apa dengar. Setiap beliau mengucapkan
kata-kata itu, selalu terlihat pada wajahnya bahwa di dalam hatinya
beliau sedang berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa, supaya Apa diberi
pikiran yang lapang, cerdas serta mendapat kemajuan dalam
menuntut ilmu.
Yang menjadi cita-cita beliau, tiada lain agar Apa bersekolah sampai
tamat serta bisa meneruskan belajar ke sekolah yang lebih lanjut.
Ketika Ama bertanya kemana Apa ingin meneruskan sekolah, dengan bulat
Apa mengatakan ingin malanjutkan ke Mulo. Tetapi kehendak/keinginannya
itu ternyata gagal, karena walaupun Apa berpegang teguh pada kehendak
Apa, Ama tetap tidak menyetujuinya. Yang dikehendaki beliau, agar Apa
meneruskan sekolah ke KS (Kweekschool) atau ke Osvia. Yang menjadi
alasan, ialah karena murid-murid Mulo tidak diasramakan seperti
murid-murid KS atau Osvia.
GURU BARUSuatu ketika, dikelas Apa berbeda dari keadaan biasa. Murid-murid yang
biasa ramai/gaduh, pada waktu itu hanya terdengar berbisik.
Apa duduk diatas bangku dengan tegak sambil tangan disilangkan, serta
tidak sepatah katapun yang diucapkan. Bagaimana rupa guru baru itu? Apakah baik? Atau bengis suka memukul murid-murid?
Demikian pikiran-pikiran yang timbul, serta Apa mendadak berdebar-debar.
Tidak lama guru baru tersebut datang, terus masuk kedalam kelas serta terus duduk di atas kursi yang tinggi.
Sungguh aneh, ketika Apa melihat dari dekat, timbul perasaan bahwa Apa
menyukai guru baru tersebut. Terutama melihat keserasian pakaiannya,
baju tutup warna putih, celana dari wol warna gading, mengenakan
“bendo” batik. Sepatu berwarna sawo matang, mengkilap. Badannya kecil,
berkulit kuning, giginya beres serta berkumis tipis. Kalau berbicara,
selamanya sambil tersenyum, berbicara dengan lancar, berbudi manis,
menggugah perasaan suka dari murid-murid. Umurnya kurang lebih 25 tahun
dan namanya los Wiriaatmadja.
Setelah ada “Juragan los”, Apa merasa semakin betah bersekolah,
lebih-lebih setelah diketahui bahwa beliau menyukai anak-anak. Beliau
membimbing murid-murid tidak hanya didalam kelas atau halaman sekolah,
tetapi juga di luar jam pelajaran sekolah, seperti ringen (senam
gelang), gymnastik, sepak bola dan sebagainya. Kadang-kadang pada hari
Minggu, anak-anak dilatih baris-berbaris di Haurpanggung atau
dilatih lari mengelilingi lapang pacuan kuda. Kalau tidak berlatih,
kami diajak bertamasya ketempat-tempat menarik.
Karena Juragan los masih belum mendapat rumah, untuk sementara beliau
masih serumah dengan orang tuanya di Desa Sukaregang, jaraknya sekitar
3 km dari kota Garut. Walaupun demikian, Apa sering ke rumahnya, belajar
bersama dengan teman-temannya atau bermain di halaman rumahnya.
Juragan los menyebut Apa dengan sebutan “Utig”, dan kelihatannya
seperti menyukai Apa, lebih-lebih setelah kelas pegangannya mendapat
giliran diperikasa (di-repetitie) oleh kepala sekolah. Ketika Tuan
Dekreuf (kepala sekolah) memberi pelajaran dikte, hanya Apa sendiri
yang benar semua, serta mendapat angka yang paling baik.
PINDAH KE SUCIPada tahun….. Mama Kopral mendapat S.K. (besluit) kepindahan ke
Bungbulang, dan diangkat menjadi mantri gudang garam. Karena di
Bungbulang tidak ada HIS, terpaksa Apa ditinggal beliau.
Walaupun jauh, terpaksa Apa harus pindah ke Mang Emeng, karena di kota
tidak mempunyai saudara.
Apa oleh Mama Kopral dan Embi Edah, dibawa ke Suci, yang akan mejadi
tempat tinggal Apa selamanya. Apa mengerti, bagaimana beratnya Embi
Edah meninggalkan “putranya”. Sambil tak berhenti-hentinya menepis air
mata, beliau meninggalkan Apa.
MANG EMENGKeadaan di Mang Emeng jauh lebih beda dengan keadaan di Mama Kopral.
Rumahnya model baru, berdiri dengan megahnya di pinggir jalan besar.
Halamannya luas, bersih dan asri. Di depan rumahnya berderet pot-pot
bunga dengan macam tanaman.
Memperhatikan caranya berumahtangga, ternyata bahwa Mang Emeng
merupakan orang hemat dan pandai mengatur biaya rumah tangga. Menurut
kabar, beliau ini merupakan orang yang kaya, dan kekayaannya
tersebut bukan warisan nenek moyangnya, tatepi betul-betul hasil
keringatnya sendiri sejak beliau mulai bekerja.
Selain itu yang diperbincangkan orang, ialah mengenai kebersihannya.
Walaupun perabot rumahtangganya serba sederhana, tetapi tetap bersih
dan mengkilap karena pemeliharaan. Kata Ama : “tampolongna oge matak
era nyiduhan” (untuk meludah pada tempat ludah, kita akan malu sendiri,
karena sangat bersih dan mengkilat).
DIDIKAN EMBI JURUTULISEmbi Jurutulis, walaupun bukan lulusan sekolah, merupakan istri
cekatan, kaya akan pengetahuan dan berbudi. Beliau tidak banyak cakap,
tetapi pada wajahnya terpancar sinar welas-asih yang dapat menembus
sanubari anak.
Kalau Apa melakukan kesalahan, beliau tidak pernah marah, tetapi
nasihatnya yang diucapkan dengan sabar dan budi manis, betul-betul bisa
membangkitkan rasa menyesal dan janji dalam hati, tidak akan
melakukannya lagi. Demikian cara Embi Jurutulis mendidik anak.
Semula Apa tidak merasa kerasan tinggal di Suci, pertama karena masih
teringat pada Embi Edah, kedua karena tidak biasa dengan didikan Embi
Jurutulis, karena yang sudah-sudah Apa disebut tukang “memerintah”,
tukang “menangis”, tukang “mutung”. Tetapi karena kepandaian Embi
Jurutulis, tidak begitu lama, apa sudah merasakan seperti pada orang
tua sendiri, Kepada Embi, timbul rasa kasih-sayang dan tidak
sungkan-sungkan, seperti terhadap ibu kandung sendiri. Segala
nasihatnya, meresap dengan cepat. Kebersihan, kerajianan, kecekatan dan
hemat, sudah menjadi milik Apa. Selain dari pada itu, Apa mengerti
bahwa pada “keluarga” Embi, tidak ada tempat untuk berbohong dan
berbuat tidak jujur.
Kepada Embi, Apa makin merasa sayang. Apa merasa sangat gembira kalau
disuruh, lebih-lebih kalau disuruh membantu pekerjaan beliau. Sejauh
mana meresapnya didikan berhemat, dapat Apa buktikan dengan pengalaman
di bawah ini.
Karena jauhnya jarak ke sekolah, pagi-pagi Apa tidak sempat sarapan.
Karena itu terpaksa Apa pergi ke sekolah dengan perut kosong. Tetapi
luput sama sekalipun tidak, karena sebelum berangkat, Embi selalu
memberi uang “sebenggol” (dua setengah sen) untuk jajan. Dengan tidak
memberi tahu kepada Embi, uang tersebut dipakai Apa utnuk jajan 1
½ sen, sedang yang satu sennya disimpan. Dengan jalan demikian, Apa
mempunyai tabungan yang cukup, serta bisa membeli dompet dari kulit.
MANG EMENG MENINGGALKAN GARUTTakdir tak dapat dihindari. Pada tanggal …… Mang Emeng mandapatkan S.K.
(besluit) kepindahan ke Sumedang, untuk memangku jabatan Jurutulis
Jaksa.
Bagaimana sedih dan bingungnya Apa waktu itu, tak dapat Apa ceritakan.
Bimbang, karena kecuali Mang Emeng, di Garut, Apa tidak mempunyai
sanak-saudara untuk menitipkan diri. Tetapi penyebab utamanya, rupanya
kebiasaan anak-anak yang segan berpisah dengan orangtuanya.
Selama Apa tinggal dengan Mang Emeng, betul-betul merasa senang dan
serba berkecukupan. Semua kebutuhan Apa dicukupi, apalagi yang
menyangkut pelajaran sekolah, baik Mang Emeng maupun Embi, sama-sama
memperhatikan. Jadi, sewajarnyalah kalau Apa sangat merasa berat untuk
berpisah dengan beliau. Berat karena kebaikannya, berat karena
pemberiannya, terutama berat karena “kasih-sayangnya”.
Suatu waktu Apa dibawa oleh Mang Emeng dengan mengendarai delman,
membawa kopor seng yang berisi pakaian dan kasur. Yang dituju ialah
Juragan los, yang pada waktu itu sudah pindah ke kota. Mulai waktu itu
Apa lepas dari asuhan/didikan Mang Emeng, dan pindah menjadi “anak kos”
(kostjongen) di Juragan los.
PERTAMA KALI MENJADI ANAK SEMANGSelain Apa, masih banyak anak dari tempat lain yang belajar di Garut.
Untuk anak-anak seperti itu dapat dikatakan beruntung sekiranya
mempunyai sanak keluarga, naasnya kalau seperti Apa yang tidak
punya sanak keluarga. Pada waktu itu masih belum ada asrama
yang biasa dipergunakan untuk menampung murid-murid. Sebab itu
banyak sekali orang tua yang menitipkan anaknya pada salah seorang
guru, dengan sebutan “indekost” (menumpang). Dengan bayaran f 10,-
sebulan., anak tersebut bisa diterima menumpang dengan diurus makannya.
Itulah latar belakang, mengapa akhirnya Apa tinggal di Juragan los.
Ketika Apa pindah ke Juragan los, dirumahnya sudah terdapat delapan
orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang berbeda
umur maupun kelasnya. Sudah diceritakan bahwa Apa sangat menyukai
Juragan los. Karena itu Apa langsung betah tinggal di rumahnya,
lebih-lebih karena banyak kawan. Apa ditempatkan di sebuah kamar besar
dekat dapur bersama-sama dengan anak-anak yang 8 orang. Waktu belajar,
duduk mengelilingi pelit (cempor), sedang waktu tidur membenahi tikar
dan bantalnya masing-masing. Hanya Apa sendiri yang tidur di atas kasur.
Pagi-pagi sebelum sekolah, diberi makan dahulu sepiring nasi dengan
sekerat goreng tempe, yang sudah biasa diatur dan dikerjakan oleh
seorang pembantu wanita, yang disebut anak-anak dengan sebutan “Ceuk
Idah”. Mendapat lagi makan, sepulangnya dari sekolah, sedang yang
ketiga kali pada waktu sore selepas magrib.
NASIB ANAK-ANAK SEMANGWalaupun menjadi “anak semang” di rumah orang lain, semula merasa
berbesar hati. Apa merasa waktu itu, sudah cukup umur dan pengalaman
untuk hidup terlepas sama sekali dari orang tuanya.
Tidak selang berapa lama, terpikir oleh Apa, bahwa sebenarnya Apa ini
masih kecil/anak-anak. Apa masih butuh oleh pengasuh, butuh oleh tempat
berlindung, butuh oleh didikan rohani dari ibu yang mengandung.
Selama tinggal di Juragan los, sering sekali Apa menemui kesulitan.
Pakaian yang biasa bersih dan beres, kotor dan dekil karena dipaksa
harus mencuci sendiri. Uang jajan yang biasa diterima dari istri
Juragan los, akhirnya sama sekali tidak diberi, wallohualam apa
sebabnya. Pelajaran sekolah jadi terbengkalai, yang diutamakan hanyalah
bermain dan bersenda-gurau. Lebih-lebih masalah kesehatan, tidak pernah
diperhatikan. Buang air besar di malam hari dari celah bambu
(conggang), sudah menjadi kebiasaan anak-anak semang.
Kepada siapa Apa mesti berlindung? Siapa yang akan membimbing kearah jalan yang benar?
Jauh berbeda seperti bumi dan langit, dibandingkan dengan ketika Apa
tinggal (diasuh) oleh Mang Emeng. Sampai sekarang masih terbayang Embi
sedang membuat lubang kancing, Emang sedang mengikir gunting. Apa
bersila menghadapi buku, bertiga berkumpul sekeliling lampu. Masih
terdengar suara air panas dalam cerek kaleng yang sedang di jerang.
CAMPUR GAUL DENGAN ANAK-ANAK NAKAL 
Diantara anak-anak yang 8 orang ada seorang yang nakal melebihi batas,
namanya Subarsa yang berasal dari Distrik Leles, anak seorang Lurah
Kiarabaok. Ia sekelas dengan Apa, tetapi umurnya lebih tua, karena
sudah dua kali tidak naik kelas. Selama serumah dengan Apa, tidak
pernah terlihat belajar. Selamanya berbicara kasar, memperolok-olok
orang lain atau merokok. Sering terlihat ia mempunyai benyak uang.
Ada lagi seseorang yang berkelakuan tidak pantas, yaitu putra camat
Cimaragas bernama Ahmad, tetapi dipanggil leh anak-anak dengan sebutan
“Ahmad Cim” atau “Encim”, diambil dari kata Cimaragas. Ia pun berumur
lebih tua dari Apa, tetapi kelasnya di bawah Apa. Encim tidak senakal
Subarsa, tetapi oleh anak-anak sudah di cap pembohong dan tidak jujur.
Selain dari itu, ia suka menjual pakaian, malahan pada suatu ketika
diketahui telah menjual beberapa baju kebaya, hasil curian dari orang
tuanya.
Kedua anak tersebut, sering dimarahi dan dinasehati oleh Juragan los.
Mereka tidak pernah jera, dari pada jera mereka malahan tambah
menjadi-jadi. Kelakuannya hanya memberi contoh yang kurang baik. Apa
mengerti bahwa sifat dan kelakuan mereka tidak patut ditiru, tetapi
karena seringnya bergaul dengan mereka, lama-kelamaan Apa terpengaruh.
Apa menjadi berani mengambil makanan dari lemari induk Semang, berani
memetik rambutan, malahan pada suatu ketika hampir menjual pakaiannya
sendiri.
Suatu ketika Apa diajak ke kampung Subarsa di Kiarabaok. Di situ Apa
bisa menyaksikan bagaimana orang tua Subarsa mendidik anaknya. Ayah
Subarsa bukan orang terpelajar, kepada anaknya sangat kejam, tidak
pernah memperlihatkan perangai yang manis,emanggil anaknya dengan kata
kamu (sia),an menyebut dirinya dengan kata aku (aing). Jadi tidak aneh
kalau anaknya menjadi menyeleweng (salah asuh), tidak sedikitpun
mempunyai rasa kasih sayang terhadap orang tua. Akhirnya ayah Subarsa
menjadi korban penipuan anaknya sendiri.
MENGAMBIL TABUNGAN. APA DIMARAHI JURAGAN LOS. ENCIM MELARIKAN DIRI. Wallohualam apa penyebabnya, diantara anak-anak semang, Apa paling
disayang oleh Juragan los, sedikitnya paling dipercaya. Sering Apa
mengetahui, bahwa Apa dibedakan dari teman lainnya. Terutama Apa yang
paling sering “disurh” oleh induk semang, bahkan istrinya sering
memanggil, lagi-lagi Utig, lagi-lagi Utig.
Pada waktu itu Apa mempunyai tabungan di kantor pos, kurang lebih sudah
mencapai f 10,-. Pada suatu hari, Apa dipanggil oleh Juragan los dan
harus memperlihatkan buku tabungan. Tetapi celaka, jumlah tabungan Apa
tinggal 25 sen, maka terbongkarlah beliau bahwa Apa suka mengambil buku
tabungan. Juragan los tidak memperlihatkan perangai marah, tetapi terus
bertanya dengan sabar, apa gunanya Apa mengambil tabungan dan
dipergunakan untuk apa dan sebagainya. Apa berbicara terus terang bahwa
Apa melakukan hal itu karena dibujuk oleh Encim dan uangnya habis
dipakai jajan berdua.
Juragan los langsung marah, Encim pada waktu itu juga dipanggil dan
dimarahi habis-habisan. Demikian juga Apa tidak terlepas dari umpatan
beliau, yang sampai sekarang masih juga merasa menyesal kalau teringat
akan kelakuan tersebut. Encim juga, terlihat sepintas seperti merasa
meyesal, tetapi karena bakat kurang baik itu sudah melekat, rupanya
sukar untuk dibuang. Suatu ketika setelah ia pergi biasanya dimarahai
lagi oleh Juragan los, ia pergi meninggalkan rumah entah kemana, tiada
yang mengetahui…….. minggat.
BERKELAHI DENGAN SUBARSA. APA DIPISAHKAN OLEH ISTRI JURAGAN LOS DARI TEMAN LAINNYASuatu ketika anak-anak berkumpul di kamar tidur. Bukan sedang
mengerjakan yang baik, seperti belajar dan lain-lain, tetapi seperti
biasa bersenda-gurau, ngobrol dan tertawa-tawa. Subarsalah anak yang
paling banyak ulahnya. Tidak bosan-bosan ia mencela dan memperolok
teman, demikian juga terhadap Apa.
“Aidaa! Aidaa!”, kata Subarsa tidak henti-hentinya dan ditimpali oleh
adiknya yang bernama Subarsih. Kata-kata tersebut dimaksudkan untuk
menyindir Apa, Karena Apa disayang oleh “Ceuk Idah”. Olok-olok
Subarsa, Apa layani. Subarsa oleh oleh Apa disebut anak kurus pecandu
madat “sebab suka merokok”, sedang adiknya disebut “si Tambal” sebab
dimukanya terdapat tanda. Dari olok-olok terus bersilat lidah dan
akhirnya bertengkar.
Pada akhirnya, Apa tidak kuat menahan amarah. Dengan kemarahan yang
meluap-luap, Apa turun dari rumah menantang berkelahi kepada Subarsa
dan adiknya. Menurut nafsu, dua-duanya mau Apa bawa kepinggir Sungai
Cimanuk, tetapi terlanjur berkelahi di halaman rumah.
Istri Juragan los segera keluar rumah dan memisahkan Apa dengan
Subarsa. Tetapi ketika beliau lengah, Ap a kembali menyerang Subarsa.
Sambil menengis karena sedih, Apa dibawa oleh istri Juragan ke tengah
rumah. Pada waktu itu juga koper dan kasur Subarsa disuruh dipindahkan.
Sejak itulah Apa tidak boleh lagi tidur sekamar dengan anak-anak
lelaki, dan dipindahkan kedalam rumah, sekamar dengan Esah (anak
perempuan kos) dan ceuk Idah.
Jrg. los anti Belanda. Gerakan S.I. afd.B
Keributan di Cimareme
Jrg. los diancam bahaya
APA MENDAPAT PAKAIAN SEPERTI SINYOH (anak laki-laki bangsa Belanda)Suatu ketika datang peraturan bahwa murid-murid harus memakai celana
pendek. Selain daripada itu, diperbolehkan memakai sepatu seperti anak
orang Belanda. Kain sarung berikut tutup kepala dari batik (iket) tidak
boleh dipakai lagi.
Pakaian murid-murid mulai berubah. Betapa ingin Apa memliki pakaian
seperti Subarsa dan Subarsih. Diantara teman-teman serumah, merekalah
yang pertama kali memakai sepatu. Apa segera menulis surat ke
Pangandaran. Karena takut Ama tidak mengerti, isinya pun singkat
sebagai berikut :
“Mohon diberi pakaian seperti sinyoh”.
Seminggu kemudian Apa dipanggil oleh Juragan los. Beliau melihat Apa
sambil tersenyum, katanya: “Apakah kamu ingin seperti
sinyoh? ”Cepat mandi, ikut aku ke Pengkolan”. Apa sangat gembira, karena
permintaan Apa dikabulkan. Sore itu juga Apa dibawa Juragan los
beserta istrinya ke Pengkolan. Setelah memasuki beberapa toko,
Apa pulang sambil membawa dua buah bungkusan. Sebungkus berisi satu
stel pakaian, terdiri atas celana pendek dan kemeja dengan kerah
(kraag) dilipat memakai dasi, sedang yang sebungkus lagi berisi sepatu
“derbi” warna hitam, lengkap dengan kaos kaki dan talinya.
DIDIKAN MANG EMENGSering sekali Apa melihat Mang Emeng sedang membersihkan pistol. Dalam
keadaan seperti itu, walaupun Apa tidak dipanggil, tetapi karena
penasaran, Apa selalu datang mendekat untuk melihat jelas pistol
tersebut. Ingin sekali Apa mengerti cara menarik pelatuk dan mengisi
pelurunya. ingin rasanya Apa memegangnya, menelitinya dan
mengutak-atiknya. Emang rupanya mengerti isi hati Apa. Bahkan tidak
mustahil beliau mengetahui bahwa Apa suka meniru gambar pistol dari
“pryscourant” atau membuat pistol-pistolan dari kertas karton maupun
tanah liat.
Suatu ketika, setibanya beliau datang dari kantor, Apa dipanggil.
Sambil memberikan serupa mainan, beliau berkata: “Cep, nih Emang punya
yang aneh”. Apa bisa menebak, bahwa yang diberikan tersebut adalah
pistol-pistolan, tetapi bagaimana menggunakannya? Emang memberi contoh.
Ketika pelatuknya ditarik, yang tersembul dari mulut pistol
adalah……………………………………… pensil.
Ketika ditarik sekali lagi, yang keluar……tangkai pena. Ketika dicabut dari popornya, ternyata…….tempat tinta.
Sejak waktu itu, kalau ke sekolah, saku atas baju Apa tidak lagi penuh
dengan pensil dan tangkai pena, tetapi dengan gagah menyandang pistol.
GANTI LAGI TEMPAT TINGGALSudah diceritakan bahwa Juragan los, merupakan seorang ahli pergerakan
dan menjadi pemimpin politik serta sangat berpengaruh di kalangan
rakyat Garut. Akhirnya oleh Pemerintah Belanda, beliau dihukum dengan
jalan dipindahkan ke Purwakarta. Oleh karena itu, terpaksa “asrama” di
rumahnya dibubarkan, anak-anak masing-masing mencari pemondokan. Setelah dirundingkan matang-batang, oleh Juragan los Apa diserahkan
kepada orang tuanya.
Orang tua Juragan los sudah setengah baya. Ayahnya bernama “Djami”,
ibunya bernama “Udji”. Karena sudah kenal sejak sebelumnya, Apa merasa
tidak canggung, kepada suaminya, Apa menyebut “Mama”, kepada istrinya
Apa menyebut “Ema”, meniru Juragan los. Sedang Apa dipanggil dengan
sebutan “Aden”.
Apa ditempatkan disebuah kamar yang kecil, dan tidur di atas ranjang
kayu mamakai kasur. Kalau makan selalu bersama-sama dengan Mama dan
Ema. Oleh karena itu, Apa merasa tidak tinggal dengan orang lain,
lebih-lebih karena budi-bahasa beliau sangat baik. Apa dianggap sebagai
putranya sendiri, sehingga Apa pun tidak ragu-ragu selalu meminta uang
kepada Ema.
KUDA TERLEPAS DARI ISTAL/KANDANGPada pasal “Nasib anak-anak menjadi anak semang”, sudah digambatkan,
bahwa selama tinggal di Juragan los, pelajaran Apa sangat tertinggal.
Untung Apa mempunyai bakat cerdas, sehingga segala pelajaran tidak
terasa sukar. Oleh karena itu, berkat do’a orang tua, nilai pada rapot
selamanya baik dan Apa setiap tahun bisa naik kelas. Waktu pindah ke
SR, Apa telah dinaikkan ke kelas enam.
Sekarang Apa telah menjadi anak pungut Ema Udji, seorang yang sama
sekali tidak mengerti seluk-beluk urusan sekolah. Walaupun tiap kwartal
buku rapot Apa diperlihatkan, tidak ada artinya sama sekali, sebab Ma
Udji tidak bisa membaca. Tanda tangannya pun menggunakan huruf Arab.
Oleh sebab itu Apa melakukan berbagai hal dengan leluasa, sehingga
pelajaran sekolah makin terganggu. Nafsu belajar, kalah oleh nafsu
bermain. Lebih lagi setelah Apa mempunyai banyak sahabat, setiap hari
mereka datang bermain di teras atau halaman rumah. Selain dari tiu
pergi bersama-sama ke sawah, lanpangan, sungai, samapi tidak satupun
tempat yang belum didatangi.
Setelah pulang sekolah, terus menyimpan buku, makan dan pergi lagi.
Pulang ke rumah lepas magrib dangan pakaian kotor, bahkan kadang-kadang
lupa mandi. Karena Apa dianggap sebagai “putra menak” (priyayi),
Ma Udji agak segan menegur/ mengingatkan perilaku Apa.
TERLANJURHari berganti minggu, kelakuan Apa tetap tidak berubah. Pelajaran
sekolah makin lama makin terlupakan, dan akhirnya sama sekali tidak
pernah belajar. Yang dikerjakan setiap hari tiada lain adalah bermain
dan bergerombol dengan teman-teman kesana-kemari. Sering sekali Apa
ditegur oleh Ma Udji, kalau datang tengah malam atau sama sekali tidak
datang karena menginap di rumah teman. Tetapi nasihat beliau tidak
pernah Apa gubris. Apa tetap keras kepala dengan tidak menggubris
peringatannya. Akhirnya Apa berani membalas dendam dengan jalan tidak
bersekolah. Ma Udji diberi tahu bahwa sekolah libur dan lain
sebagainya. Segala macam akal, Apa jalankan agar dipercaya oleh Ma Udji.
Demikian hidup Apa sampai beberapa minggu. Apa sudah satu langkah,
menurutkan hawa nafsu, mengikuti jalan yang salah menuju lembah
keburukan.
Mungkin pada waktu itu Ama dan Endeh sedang berdo’a, memohon kepada
Tuhan Yang Mahakuasa, agar Apa menjadi orang yang benar, rajin dan
gigih dalam menuntut ilmu.
Terbayanglah Ama yang sedang duduk mencakung, bersandar pada dinding di
bawah jam, sambil menyalakan batu api (paneker). “Kelakuan kebiasaan
buruk akan sukar dihilangkan kembali”. Demikian amanat yang sering Apa
dengar.
DITOLONG OLEH JRG. KARNATidak usah diceritakan bagaimana marahnya para guru, setelah mengetahui
bahwa Apa tukang bolos. Terutama Juragan Karna, guru pertama,
yang waktu itu disebut Juragan. Mantri Guru. Rupa-rupanya beliau suka
menerima surat Ama yang suka menanyakan keadaan Apa.
Suatu ketika sedang Apa duduk seorang diri di teras rumah, ada
seseorang yang turun dari delman (dokar). Ternyata Juragan Karna yang
sengaja datang ke Ema Udji untuk menguruskan masalah Apa. Apa merasa
gelisah karena mau menyingkir sudah tidak mungkin lagi. Hati
berdebar-debar karena takut, lebih-lebih melihat perangai/wajah
Juragan Mantri Guru yang demikian kusam, tahulah Apa akan akibatnya.
Apa dimarahi habis-habisan oleh Juragan Mantri Guru, bahkan rambut Apa
pun dijambaknya. Tadinya Apa mau digusur ke rumahnya, tetapi Apa
bertahan sambil menangis. Karena usahanya tidak berhasil, terpaksa
Juragan Karna pulang kembali dengan mempergunakan delman dengan hati
kecewa.
Tidak selang berapa lama, datanglah waktu kenaikan kelas. Tetapi aneh
bin ajaib, karena Apa naik kelas 7. Terbuktilah bagaimana
ampuhnya doa orangtua. Selain dari itu, dapat dimengerti bahwa Apa ini
bukan anak “bodoh”.
Suatu ketika Apa mendengar berita, bahwa ketika Apa sering bolos
sekolah, terjadi suatu hal yang membahayakan Apa, ialah: Apa mau
dikeluarkan sekolah oleh Tuan Kepala, tapi tidak terjadi karena dibela
oleh……………… Juragan Karna.
Dua tahun kemudian Apa bertemu lagi dengan Juragan Karna, waktu itu Apa
sudah bersekolah di Bandung. Beliau dipindahkan dari Garut dari tempat
asalnya di Rangkasbitung, menjadi Schoolopziener. Ketika sampai di
Bandung, beliau memerlukan datang ke sekolah raja untuk menemui Apa
dengan teman-teman bekas muridnya. Sungguh tidak disangka orang yang
berperangai masam, mempunyai hati yang demikian baik.
AKIBAT BURUK LAKUKetika Apa di kelas 7, yang menjadi Kepala Sekolah ialah orang bangsa
Belanda berasal dari provinsi Friesland, yang bernama R. Abma. Sudah
diketahui orang bahwa orang Friesland adalah orang yang teguh pendirian
dan pemarah. Begitulah keadaan T. Atma, sehingga beliau tidak disukai
oleh para karyawan. (personeel), lebih lagi oleh para murid. Malahan
murid-murid kelas 7 yang telah keluar, pernah pada suatu ketika
“meninggalkan” kelas karena mogok belajar.
Bisa dimengerti, kalau Apa di kelas 7 ini tidak merasa betah. Apa
merasa takut oleh T.Atma; lebih lagi karena Apa menjadi mundur
untuk semua mata pelajaran akibat sering terlalu lama meninggalkan
sekolah waktu di kelas 6. yang paling terasa berat adalah pelajaran
berhitung. Hampir setiap hari Apa mendapatkan teguran dari T. Atma,
karena hasil pekerjaan Apa yang kurang baik, akhirnya bahkan mendapat
ancaman untuk diturunkan kembali ke kelas 6.
Apa merasa sangat menyesal sejak itu Apa berusaha sekeras-kerasnya
untuk mengubah diri. Tetapi Apa sudah tertinggal jauh oleh pelajaran,
ditambahkan lagi dengan beratnya tugas di kelas 7 pada waktu itu,
karena empat hari setiap minggu diadakan pelajaran tambahan sore hari
(/middagles) dari pukul 3 sampai dengan pukul 5. bagi Apa, hal itu
sangat terasa berat, karena tempat tinggal Apa sangat jauh dari
sekolah. Setelah sekolah bubar pada jam 1. Apa tidak sempat untuk
pulang dahulu, sehingga terpaksa menunggu di sekolah sampai pelajaran
sore dimulai. Sering Apa tidak makan nasi seharian, kalau tidak sempat
sarapan pagi. Nasibnya, beberapa bulan kemudian, Apa diturunkan ke
kelas 6.
AMA BERKUNJUNG KE GARUT UNTUK MEMERIKSA KEADAAN APA, APA BERBOHONG KARENA TAKUT (ceritera Ama waktu beliau masih hidup).Pada suatu ketika, Apa sedang diatas pohon pinang, yang tumbuh di
pinggir jalan, sedang melihat sarang burung pipit kalau kalau sudah
bertelur lagi. Ketika melihat ke bawah terlihatlah Ama, yang sedang
melihat ke kiri dan ke kanan sambil menenteng bawaannya, mencari rumah
Ma Udji. Apa bergegas turun karena gembira, Apa lari ke jalan sambil
berteriak-teriak menyebut : Ama ! Ama !
Tidak usah diceritakan bagaimana perasaan gembira antara anak dan bapa,
yang telah berpisah sekian lama. Tetapi kegembiraan Apa terbatas sampai
disini, seterusnya Apa merasa “takut” karena merasa telah banyak
berbuat kesalahan. Bagaimana kemarahan Ama, kalau diketahui Apa sering
bolos dan diturunkan ke kelas 6, tak terbayangkan. Oleh sebab itu Apa
nekad berbohong, untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Tetapi
perbuatan berbohong, lebih-lebih terhadap oarang tua, akhirnya akan
diketahui juga.
Sore hari pada keesokan harinya, Apa dibawa Ama pergi ke rumah Juragan
Mantri Guru dengan mengendarai delman. Sepanjang jalan Apa tak keruan
rasa, takut dan berdebar, karena sekaranglah jatuhnya “hukuman”.
Alangkah “untungnya” karena tuan rumah tidak ada, sehingga kami berdua
pergi lagi.
Tetapi sungguh celaka ! Apa dibawa Ama ke rumah Juragan Yuda, guru
Sekolah Normal (/Normalschool), beliau adalah teman Ama ketika masih
bersekolah. Juragan Yuda adalah ayah Juragan Cicih, guru Apa yang belum
lama diangkat di Garut, serta masih serumah dengan Juragan Yuda.
Disitulah terbongkarnya rahasia Apa, karena Juragan Cicih dengan
lantangnya menceritakan semua kelakuan Apa di depan Ama. Tidak
terkatakan, bagaimana Apa mnedapat aib dan malu oleh Ama. Tetapi
benar-benar tidak disangka, karena Ama tidak marah, hanya pada wajahnya
terbayang rasa menyesal terhadap kelakuan Apa yang menjadi putranya.
Sepanjang jalan, tidak sepatah kata pun yang diucapkan beliau.
ANGAN-ANGAN AMA – isinya sama dengan bagian pertama.
KWEEKSCHOOL BOND MEMBOIKOT KWEEKSCHOOL
(Ikatan Alumni Sekolah Raja memboikot Sekolah Raja)
Zaman Apa bersekolah di HIS terjadi kejadian aneh, ialah semua guru,
kecuali guru-guru bangsa Belanda, menasihatkan kepada murid-murid kelas
6 dan 7, agar tidak melanjutkan sekolah ke Kweekschool, jangan tergiur
oleh pangkat guru dan jangan mau menjadi guru. Pada waktu itu Apa tidak
mengerti mengapa mereka memberi nasihat seperti itu. Baru terpikir
setelah Apa bersekolah di Kweekschool, dan lebih terang lagi setelah
Apa menjadi guru.
Guru itu, baik pangkatnya maupun martabatnya sangat rendah, tidak sesuai
dengan tingginya pendidikian maupun kepentingan jabatannya. Seorang
guru lulusan Kweekschool, mendapat gaji minimum f 75,- dan maksimum f
152,50,- setelah bertugas sekurang-kurangnya 18 tahun. Kalau jadi
Mantri Guru, maksimum f………. dan kalau kebetulan menjadi opsiener
(pemilik) sebesar f………. Alangkah jauh bedanya kalau dibandingkan dengan
golongan lain, ternyata harkatnya sangat rendah.
Pada jaman itu, semua guru lulusan Sekolah Raja membentuk suatu ikatan
yang disebut Kweekschoolbond, dengan tujuan berikhtiar dalam berbagai
cara untuk memperbaiki kaum guru lulusan Kweekschool. Berbagai usaha
dijalankan, seperti mengajukan berbagai usul kepada pemerintah dan lain
sebagainnya, ada juga hasilnya walaupun tidak memuaskan.
Pada tahun 1920, Kweekschoolbond mengadakan tindakan yang luar biasa,
dengan jalan propoganda mencegah adanya calon guru; tegasnya
menggunakan akal agar Kweekschool “tidak laku”. Yang dimaksud ialah
untuk “membuktikan” bahwa harkat guru tidak bisa dijadikan harapan.
Itulah ceritanya, ketika Apa di HIS.
DENGAN TERPAKSA APA MENEMPUH UJIAN MASUK KWEEKSCHOOL BANDUNG
Sudah diceritakan bahwa guru-guru menghalangi untuk masuk ke
Kweekschool. Berbeda dengan kenyataan, pada waktu ujian banyak juga
anak-anak yang ikut. Penyebabnya ialah bahwa Kweekschool merupakan
sekolah murah, penginapan disediakan, makanan diurus dan sejak
permulaan tidak memerlukan biaya sekolah.
Agar mendapat surat dari Ama, agar ikut mendaftarkan, demikian juga
halnya Juragan. Mantri Guru, yang rupanya telah mendapat surat dari
Ama. Dengan demikian Apa merasa berbesar hati, karena Ama masih menaruh
kepercayaan. Masih terbayang wajah Ama yang lesu dan muram, ketika
meniggalkan rumah Juragan Cicih. Sekaranglah waktunya untuk
memperlihatkan dan membuktikan kepada Ama, bahwa putranya tidak gagal.
Sekaranglah waktunya Apa “menebus” kesedihan Ama yang idsebabkan
oleh tingkah laku putranya.
Apa bertekad untuk mengikuti ujian, dan “harus” lulus, walaupun pada waktu itu Apa baru kelas 6.
UJIAN BAGIAN PERTAMA
Jumlah murid yang akan megikuti ujian, berjumlah 14 orang, ialah 5
orang dari kelas 6 dan 9 orang darikelas 7. Oleh karena itu, apa yang
Apa harapkan tidak begitu besar, juga bahwa Apa tahu yang akan diterima
hanya 2 atau 3 orang. Tetapi Apa tidak mundur, bahwa terus belajar
dengan sekuat tenaga. Kata hati: “Malu, kalau sampai tidak berhasil”.
Akhirnya sampailah waktu ujian bagian pertama. Pukul 7 pagi Apa bersama
teman-teman, datang ke halaman kabupaten sambil membawa pensil, tangkai
pena dan karet penghapus. Sepanjang jalan Apa berdebar-debar, yang lain
pun sama, bahkan ada seorang yang terus berdo’a.
Di pendopo kabupaten, sudah disediakan kursi berikut meja dan kertas
kosong berikut tempat tinta pada masing-masign meja. Yang akan
menyaksikan sudak berkumpul, T. Abma kepala sekolah dan beberapa orang
lagi yang tidak Apa kenal; yang makin menambah rasa gentar.
Tetapi alangkah anehnya; Ketika Apa yang telah duduk diatas kursi
menghadapi soal yang harus dikerjakan, hati yang semua berdebar menjadi
tenang, pikiranpun menjadi terang. Apa mulai menulis dan terasa sangat
lancar. Baik-buruknya hasil pekerjaan Apa, tidak dapat diceritakan;
hanya yang masih ingat, tulisannya jorok banyak huruf yang dicoret. Ada
dua pelajaran yang diujikan, ialah bahasa Belanda dan Berhitung.
UJIAN BAGIAN KEDUA“Keesokam harinya, waktu…………..”
Catatan autobiografi masa kecil dan sekolah Daeng di HIS Garut itu
terhenti sampai di atas. Diperkirakan ia sekolah di HIS antara tahun
1917 sampai 1924. Daeng akhirnya dapat lulus dalam ujian untuk memasuki
Kweekschool di Bandung tahun 1924.
Daeng bersekolah di Kweekschool selama empat tahun (1924-1928). Selama
bersekolah ia tinggal di asrama. Berdiam di asrama merupakan bagian
dari masa hidupnya yang mngesankan dan menarik. Dalam periode inilah ia
memperoleh julukan baru yang terus digunakan sampai hari tuanya.
Terjemahan tulisan mengenai nama julukan “si Etjle”,
pengalaman-pengalaman selama belajar, kebiasaannya selama bersekolah,
hubungan-hubungan akrab bersama teman-teman sekolahnya di Kweekschool,
kita turunkan seluruhnya disini.
“SI ETJLE”
Waktu kecil tidak suka mandi,
Pagi-pagi biasa kesiangan
Malas membuat pekerjaan rumah,
Kesukaannya….merokok.
Tidak tahu siapa yang memulai, tidak tahu apa penyebabnya karena
tiba-tiba semua teman seasramanya menyebut saya si Etjle. Kadang-kadang
ada juga yang menyebut saya Kang Etjle atau Mang Etjle, bahkan ada juga
yang menyebut si Akang Etjle. Tetapi pada umumnya, sebutan tersebut
ialah “Si Etjle”.
Sebutan tersebut berlangsung sampai sekarang, hanya bedanya untuk waktu
sekarang disesuaikan dengan kehendak jaman, jadi…. Pak Etjle.
Si Etjle tidak termasuk golongan anak yang istimewa. Kepandaiannya di
sekolah, hanya paling tinggi juga disebut cukup. Di lapangan olah raga
paling lamban. Di kelas tiga pernah tidak naik kelas sekali.
Barangkali dapat dibayangkan, anak yang kotor, kumal dan bau temabkau.
Demikian gambaran si Etjle dahulu, sejak masuk ke kandangnya (asrama)
pada tanggal 1 Juli 1924, sampai keluar pada 13 Mei 1928.
Tetapi anehnya, walaupun anak demikian kumal, oleh teman-teman sesekolah
si Etjle itu seperti yang disukai. Berbagai pengalaman membuktikan
bahwa sekurang-kurangnya oleh teman-temannya tidak pernah diasingkan.
Kalau si Etjle bertengkar, seluruh kelas membantu memenangkannya. Si
Etjle sakit, pada datang melayat (pernah dua kali dirawat di rumah
sakit pemerintah di Rancabadak, waktu terkena penyakit malaria
tropica). Tidak bisa berhitung, pada mambentu, kurang lancar membaca si
Miskin, ramai pada memberitahu (membaca mendahului agar diikuti).
Anak-anak perempuan demikian pula, Ceuk Iming, Ceuk Soekraeni, Ceuk
Djohaeni, Ceuk Aminah, terlihat jelas kasih sayangnya.
Sebagai lazimnya kebiasaan di asrama, kalau ada murid yang mendapat
perhatian lebih dari salah seorang guru, menurut istilah kandang:
“dianak emaskan”, anak seperti itu biasanya menjadi korban; dijadikan
bulan-bulanan ejekan, dihina, dicap jilat, dn lain-lain.
Dalam hal ini, bagi si Etjle mendapat perbedaan lagi. Tidak pernah ada
yang iri hati (menganggu), walaupun semuanya sudah pada tahu, bahwa si
Etjle “dianak emaskan” oleh si Engke (sebutan uneuk tuan L.C. Hardus)
Bahkan kebalikannya, keadaan seperti ini oleh anak-anak suka
dimanfaatkan. Kadang-kadang si Etjle suka dijadikan “pemuka” (orang
yang dikedepankan), untuk kepentingan mereka. Umpamanya: “Hari pertama
di bulan baru, pada waktu istirahat pertama, si Etjle suka disuruh
menghadap tuan Hardus, untuk mengatakan : “Cuaca baik, Tuan”. Maksudnya
agar anak-anak pada hari itu dibebaskan dari pelajaran, terus disuruh
membersihkan kamar, menjemur kasur dan sebagainya.
Ada satu hal kepandaian si Etjle. Bahkan boleh sikatakan luar biasa,
suatu kepandaian yang sukar tandingannya di lingkungan
teman-teman sekelasnya, ialah……. menembak.
Yang dimaksud “menembak”, ialah memperkirakan (menebak) apa yang bakal
keluar pada waktu ulangan. Dengan demikian terbukti, bahwa si Etjle
pada waktu musim ulangan tabu untuk mempelajari seluruh pelajaran.
Dipilih mana yang dianggap penting; diperkirakan mana yang akan keluar
pada soal. Dan disinilah kelihatan kemahiran si Etjle, melebihi dari
teman-teman lainnya. Sembilan dari sepuluh soal tebakannya suka mengena.
Ada yang mengomentari : Si Etjle mempunyai “ketajaman rasa”….. wallohualam.
TIGA BELAS, TIGA BELAS, TIGA BELASSi Etjle dilahirkan tanggal 13 Mei 1908 Kebagian nomor ujian 13, lulus
No.13 tanggal 13 Mei 1928 (ulang tahun kedua puluh) si Etjle menjinjing
kopor, meninggalkan kandangnya…
Tanggal 13 Mei 1928 merupkakan hari yang “bersejarah” untuk bekas teman
sekandang angkatan ke-28. Sebab pada hari itulah jatuhnya keputusan
dari para penguji yang menentukan nasib 15 orang calon manusia, setelah
digembleng secukupnya selama empat tahun di kandangnya.
Si Etjle lulus. Sampai berjingkrak-jingkrak. Sebagai orang yang
benar-benar mempunyai banyak pengetahuan. Karena kata si Cakung
(sebutan untuk Direktur De Kruyter, yang mewakili Direktur Van Tul)
juga: Barang siapa yang mempunyai ijazah Kweekschool, harus menguasai
seluruh pelajaran yang telah dipelajarinya.
Si Etjle bangga .... mempunyai rasa bahwa ia pandai. Padahal semuanya
juga tahu. Bisa mencapai garis finish sambil merayap, karena Si
Etjle... “banyak dibantu.” Kang Roesadi tukang membuatkan
pekerjaan rumah (mempergunakan karbon), Ceuk Djoehaeni yang memberi
kesempatan meniru (nyontek), Tasban tukang menuntun membaca Robinson;
Sa’id tukang membuatkan mata pelajaran berhitung pada ulangan umum;
Mamak tukang ... membuatkan bendo (tutup kepala dari batik) .... “
Kenang-kenangan yang ditulis oleh Daeng pada masa-masa di Kweekschool
ini adalah bagian-bagian yang dianggapnya paling manis dalam hidupnya
dengan segala suka-duka dan “kenakalan-kenakalan” remaja usianya.
Kira-kira baru seperempat abad kemudian Daeng mendapat kesempatan lagi
untuk mengikuti pendidikan formal yaitu B I Seni Suara selama tiga
tahun (1954). Pendidikan ini sangat sesuai sekali dengan bakatnya
sehingga ia memperoleh angka-angka yang amat baik.
UJIAN TULIS :
1. ILMU MUSIK DAN HARMONI
8 (delapan)
2. SEDJARAH MUSIK
9 (sembilan)
3. DIDAKTIK PENGAJARAN MENYANYI 9 (sembilan)
UJIAN LISAN :
4. MENYANYI
7 (tujuh)
5. MAIN PIANO
8 (delapan)
6. ILMU HARMONI
8 (delapan)
UJIAN PRAKTEK MENGAJAR
9 (sembilan)
Setahun setelah memperoleh ijazah B I Seni Suara, pada tahun 1955 Daeng
bersama 16 orang rekan guru mendapat tugas belajar dalam rangka Colombo
Plan ke Australia (1955-1956).
Only AWI Member can write comments.
Please login or register.