|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 27 guests online |
|
AWI Members |
 | 1720 registered |
 | 1 today |  | 3 this week |  | 140 this month |  | Last: kocek | |
|
AWI WebStat |
Members: 1722
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
Buku Daeng Sutigna - BAB II Dari Keluarga Besar |
|
|
|
Contributed by Buku Biografi Daeng Sutigna
|
|
Thursday, 11 August 2005 |
 Nama lengkapnya Mas Daeng Sutigna sedangkan nama kecilnya Oetig. Kelak
teman-teman seasramanya memanggil dengan sebutan “Ecle”, karena kalau
ada pertunjukkan selalu mencari tempat duduk yang paling depan,
“nyengcle” (duduk). Julukan yang bersifat humor ini ternyata
disuakainya sehingga terus dipakai untuk menyebut dirinya sampai akhir
hayatnya.
Nama “Daeng” mempunyai riwayatnya tersendiri. Ayahnya mempunyai sorang
sahabat dari Makssar yang bergelar Daeng. Daeng dari Makassar ini
sangat pandai. Ketika itu ibunya sedang mengandung dan ayahnya berkata
bahwa, “Kalau anak yang dilahirkan laki-laki akan diberi nama Daeng,
agar pandai seperti sahabatnya itu”. Ketika ibunya benar-benar
melahirkan bayi laki-laki, maka bayi itu diberi nama Daeng Sutigna; nama
Daeng diambil dari nama seorang sahabat ayahnya yang orang Makassar
itu. Kelak sebutan nama Pak Daeng lebih dikenal dimana-mana.
Daeng Sutigna dilahirkan di Pameungpeuk, Garut, sebuah kota di Pantai
Selatan Garut yang berhadapan dengan Samudra Hindia, pada hari Rabu
tanggal 13 Mai 1908. Ia berasal dari keluarga “dalem” atau “priyayi”
Sunda. Daeng mewarisi bakat mendidik dari ayahnya dan bakat seni dari
ibunya. Ayahnya bernama Mas Kartaajmadja yang bekerja terakhir sebagai
mantri guru di Pangandaran, Ciamis Selatan, suatu tempat yang juga
berhadapan dengan Samudra Hindia. Ibunya bernama Nyi Raden Ratna
Soerati.
Rupanya asal-usul keluarga Daeng ini dari Ciamis. Umumya pada masa-masa
itu, keluarga “dalem” atau “menak” mempunyai dua jalur pilihan untuk
meniti karir hidup; pertama, pada pemerintahan dan kedua pada
agama. Yang bekerja di jalur agama, mulai pada pangkat yang tertinggi
seperti penghulu sampai juga pangkat yang terendah misalnya penabuh
bedug (merbot), seluruhnya merupakan keluarga. Begitu pula yang bekerja
pada jalur pemerintahan, mulai wedana, lurah, sampai dengan juru tulis,
juga merupakan keluarga. Kakek Daeng dari pihak ibunya adalah wedana
Cikembulan (Sewu) Ciamis, sedangkan kakek Daeng dari pihak ayahnya
adalah lurah Cikembulan.
Disamping kedua jalur itu, ada juga jalur ketiga yang dipelopori oleh
Mas Kartaatmadja, ayah Daeng, yaitu pendidikan. Pada suatu ketika,
bupati Manonjaya memanggil Kartaatmadja. “Kamu harus bersekolah, tetapi
tidak harus memlih, harus ke Sekolah Guru (“Sekolah Raja”), kalau sudah
lulus, kamu harus mendirikan sekolah dan mendidik calon-calon gurunya”.
Ketika itu di Pangandaran belum ada sekolah, bahkan antara Parigi dan
Cijulang pun belum ada sekolah. Kartaamadja sebagai mantri guru
kemudian membuka sekolah di Pangandaran. Ia rajin ke desa-desa untuk
mencari murid, agar anak-anak desa mau bersekolah. Hasilnya cukup
mendapat perhatian dan maju sehingga ia mendapat anugerah
gelar Kanduruan Kartaamadja. Di kalangan anak-anaknya, ia dipanggil Ama
Kanduruan Kartaamadja. Ia kemudian mendidik guru-guru bantu dangan cara
“kilat“, berupa latihan praktik (“ngamagang”) langsung. Ketika itu,
karena sekolah kurang, maka tidak semua guru melalui pendidikan Sekolah
Guru. Sekaloh guru yang ada baru satu, itupun hanya di Bandung. Jadi,
Kanduruan Kartaamadja mengadakan sendiri tenaga guru yang disahkan oleh
komisi sekolah setempat, termasuk wedana. Di tempat yang relatif
terpencil seperti Pangandaran, Kartaamadja menjadi kreatif. Selain
mengadakan tenaga guru sendiri, ia juga merupakan orang pertama yang
membuat rumah tembok yang genting dan batu-batanya buatan dan
pembakaran sendiri.
Halaman belakang rumahnya luas; di belakang ditanami pohon kelapa,
begitu juga di sebrang rumah. Daeng dan saudara-saudaranya disekolahkan
dengan biaya hasil penjualan kelapa itu. Keluarga Kartaatmadja juga
mempunyai delman, dan kudanya sebanyak delapan ekor. Rumah keluaraga
ini terletak di desa Karanggedang dan jaraknya kira-kira satu klometer
dari laut. Kelak oleh rakyat Pangandaran, rumah itu diberi nama “Bumi
Wisma Karuhun”.
 Ibu Daeng, Raden Ratna Soerasti, adalah putri wedana Cikembulan. Ia
tidak bersekolah seperti umumnya gadis-gadis pada zamannya, tetapi
setelah kawin dengan ayah Daeng, Kartaatmadja, ia belajar menulis dan
membaca dari suaminya itu. Ia berlangganan majalah Parahiangan,
Sipatahunan, almanak Balai Pustaka, dan lain-lain. Buku-buku yang
biasanya dibaca ialah : Si Congcorang, Gajah Putih, Putri Mesir, Salah
Atikan dan Babah Gaek. Daeng menganggap, bahwa ia mewarisi bakat-bakat
seni dari ibunya. Ibunya menguasai keterampilan-keterampilan merenda,
mamasak, membuat hiasan-hiasan dinding yang diberi warna dari “kewuk”
dan bambu. Ia pandai mengendarai kuda, meniup seruling, dan menabuh
gamelan. Ketika sedang mengandung Daeng, ia sedang asyik membuat
kegemarannya dengan membuat hiasan jenis tokek berwarna hitam untuk
hiasan tembok. Setelah Daeng hadir, dipunggungnya terdapat belang hitam
dari atas ke bawah seperti tokek. Konon ada hubungannya antara
kebiasaan ibunya ketika mengandung dengan belang hitam pada punggung
Daeng.
Mas Kartaatmadja dan Nyi Raden Ratna Soerasti mempunyai delapan orang
anak. Daeng adalah anak kelima dari delapan bersudara, secara
berturut-turut, mereka itu adalah Anih (almarhumah), Djakaria (H)
(Almarhum), Unang Ranuatmadja (almarhum), Imi Soeratmi (almarhumah),
Daeng Soetigna (almarhum), Onong Siti Soehara, Oeteng Soetisna (Prof.
Dr.; guru besar IKIP Bandung), dan Oejeng Soewargana (almarhum, tokoh
pejuang).
Daeng Soetigna berasal dari keluarga besar. Kelak ia juga melahirkan keluarga besar.
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|