|
 |
| |
| Sunday, 05 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 194 guests online |
|
AWI Members |
 | 1717 registered |
 | 0 today |  | 0 this week |  | 137 this month |  | Last: abudsingkong | |
|
AWI WebStat |
Members: 1719
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
Buku Daeng Sutigna - BAB I Pendahuluan |
|
|
|
Contributed by Buku Biografi Daeng Sutigna
|
|
Thursday, 11 August 2005 |
 Nama Daeng Sutigna tidak dapat dipisahkan dari kepeloporannya sebagai
inovator “angklung”, suatu instrumen musik dari bahan bambu yang semula
khas dari daerah Parahiayang. Berkat ketekunan, bakat, serta
pengetahuannya tentang musik secara mendalam, angklung telah berhasil
diangkatnya menjadi milik nasional, yang ditampilkan secara massal
tidak saja di dalam monumen-monumen seni yang bersifat nasional, tetapi
juga pada tingkat-tingkat internasional.
Daeng Soetigna adalah seorang seniman sekaligus seorang pendidik.
Penguasaannya terhadap instrumen-instrumen musik barat dan daerah baik
teoritis dan praktis luluh menyatu dalam dirinya sehingga ia
menjadi salah satu seniman Indonesia terkemuka. Bakat-bakat ini
kemudian juga menurun kepada beberapa orang anaknya. Sebagai seorang
seniman, ia juga mengajar di sekolah-sekolah, karena itu ia juga
seorang pendidik. Berkat Daeng Sutigna, angklung yang semula suatu
instrumen yang sederhana yang dimainkan oleh para pengemis untuk
menarik perhatian orang-orang yang lewat kemudian menjadi suatu
instrumen yang efektif dalam pengajaran di kelas (Arnold B. Perris,
“The Rebirth of the Javanese Angklung”, St. Louis, Missouri: University
of Missourri, hal. 403-404). Ada lima alasan ia memperjuangkan
instrumen angklung menjadi alat pendidikan, yang olehnya disebut
sebagai “Lima M” (mudah, murah, menarik, mendidik, massal). Menjelang
akhir hayatnya, cita-citanya tidak lagi terbatas pada “memasyarakatkan
angklung”, tetapi juga “menduniakan angklung” , karena ia melihat bahwa
angklung sekarang telah menyebar keseluruh dunia (Warta Rindusaba).
Bagi umum, angklung Daeng Sutigna disebut “Angklung Modern”, tetapi
juga sejumlah murud-murid yang meneruskan cita-cita dan yang telah
mengikuti perjuangan Daeng Sutigna dalam memberikan tempat yang
terhormat bagi angklung, menyebutnya “Angklung Pak Daeng”, suatu
nama untuk mengabadikan kepeloporannya itu. Ia telah berhasil
menciptakan, memajukan, dan meyebarluaskan angklung dalam susunan nada
diatonis sehingga menjadi alat pendidikan di Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Atas jasa-jasanya, maka pada tanggal 15 Oktober 1968, Daeng
Sutigna mendapat anugrah SATYALANCANA KEBUDAYAAN dari presiden Republik
Indonesia Soeharto.

Selain sebagai seorang seniman dan pendidik, Daeng Sutigna juga seorang
kepala keluarga yang akrab sekali dengan anak-anak dan cucu-cucunya,
bahakan pada hari ulang tahunnya yang dirayakan pada lingkungan
keluarganya setiap tanggal 13 Mei, disebut “Hari Cucu”. Lingkungan
pergaulan yang luas diperolah dari pengalaman-pengalaman-nya dalam
kepanduan, musik, dan perjalanan keliling dunia. Ia juga terkenal
sebagai seorang yang suka humor. Hal ini dapat kita lihat dari
petikan-petikan tulisannya sebagai semacam “Autobiografi”. Selama
hidupnya ia tidak pernah terjun dalam dunia politik. Ia berjalan lurus
sesuai dengan perannya mengisi hidup dengan amalan-amalanya di bidang
seni dan pendidikan. Bidang inilah sumbangsih pertama Daeng Sutigna
terhadap nusa dan bangsa.
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|