Bagi Daeng ini merupakan berita gembira, akan tetapi ia ingat akan kegagalannya berangkat ke negeri Belanda untuk belajar di Sticusa (Stichting Culturele Samenwerking). Persiapan-persiapnnya pun sudah selesai, bahkan guru kepada siapa ia akan belajar kelak yaitu Dr. Willem Gehrels, tokoh VMS (Volks-Muziekschool) sudah ditunjuk. Namun karena hubungan pemerintah dengan Belanda tidak begitu baik, maka ia tidak diizinkan berangkat. Anehnya justru “Pak Kasur” yang berangkat ke negeri Belanda dengan bea siswa Sticusa. Oleh sebab itu Daeng semula agak skeptis. Meskipun demikian ia mempersiapkan diri betuk-betul belajar bahasa Inggris. Ia bertekad dalam waktu satu bulan harus dapat karena ia harus berangkat bulan berikutnya yaitu April 1955. Ternyata benar-benar ia dapat berangkat bersama rekan-rekannya ke Australia. Baginya ini merupakan pengalam pertama ke luar negeri yang kelak setelah itu ia seringkali ke luar negeri memperkenalkan Angklung Indonesia.
Di bawah ini kita kutipkan hal-hal yang menarik yang ditulisnya sehubungan dengan pengalamannya di Australia. Sebagaimana biasa ia menyebut dirinya Etjle.
KE LUAR NEGERI12 April 1955Pukul dua siang, kapal-terbang perusahaan Inggris B.O.A.C. terbang meninggalkan pelabuhan Kemayoran, membawa 17 orang Indonesia dari berbagai daerah; ada orang Batak, Ambon, Bali, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, san lain-lain. Keesokan harinya setelah mendarat sebentar di Darwin, jam 7 pagi kapal mendarat di Sydney dengan selamat. Sungguh tak terbayangkn bahwa pada suatu waktu Si Etjle bakal datang ke sebuah negara yang dahulu hanya bisa melihat gambarnya pada peta.
Dari lapangan terbang rombongan dibawa ke Penginapan (Hotel Tarleton), yang terletak di pantai yang indah (Bondi-Beach), sebuah tempat pariwisata yang terkenal di seluruh Australia.
Sepanjang jalan “mata orang Indonesia” tidak hentinya melihat ke kiri dan kanan, sambil mengagumi kebersihan kota, seperti yang biasa kita lihat pada layar bioskop. Keanehan lainnya, walaupun mobil simpang-siur, tetapi tidak pernah terdengar suara klakson.

Selain dari itu, di kejauhan terlihat sebuah bangunan yang sangat aneh. Terlihat melengkung seperti busur dari konstruksi besi yang sangat tinggi.
Pengemudi memberi penjelasan, bahwa yang terliha titu adalah sebuah jembatan raksasa di Port Jackson (pelabuhan Sydney) yang disebut “Sydney Harbour Bridge”*. Jembatan tersebut (Jembatan lengkung yang terbesar di dunia) didirikan pada tahun 1930. Panjang 503 meter, dan cukup tinggi dari permukaan air sehigga kapal yang besar (Queen Mary) bisa lewat di bawahnya.
APA YANG DIKERJAKAN SI ETJLE DI AUSTRALIBidangnya : Pendidikan Musik.
Oh, masalah itu adalah kesukaannya; sudah ada pada genggaman tangan. Pengetahuan dasar sudah cukup dahulu waktu masih di dalam kandang (di asrama Kweekschool), bersama-sama teman sekegemaran; Djajaroekmani, Dali, Dede, Taslim, Djatmika, Kang Eming.
Rencana belajar di Australi ini seluruhnya ada tiga tahap. Tahap pertama merupakan “kursus kilat” selama tiga minggu. Pada kursus tersebut para peserta dilatih bahasa Inggris oleh guru-guru yang berpengalaman, serta guru yang biasa mengajar bahasa Inggris untuk “Orang baru”. Di situ Si Etjle bertambah pengalaman, ialah : seumur hiadup, baru pernah belajar bahasa Inggris, oleh Guru.
Tamat dari kursus, rombongan dimasukkan ke “Sekolah Guru”. Di situ mengikuti kuliah bersama-sama Mahasiswa pribumi pada jurusannya masing-masing. Lamanya 6 bulan (merupakan tahap kedua).
Pada tahap ketiga (bulan ketujuh), rombongan disebarkan ke daerah-daerah dan negara bagian lainnya.
Secara terus terang, setengah tahun menjadi “mahasiswa” di Sydney College tersebut tidak ada hasilnya. Semua pelajaran dan pengetahuan yang dikuliahkan, untuk Si Etjle sudah bukan baru. Tidak menemukan hal-hal yang aneh, atau belum diketahui sebelumnya. Semuanya telah dipelajari secara lengkap sejak dulu dari buku-buku.
Akhirnya sedapat-dapatnya berusaha sendiri, mencari kesempatan di luar Pendidikan Guru.
Kemudian bertemu dengan IGOR HEMELNITSKY, Igor Hemelnitsky orang yang tidak mempunyai kewarga-negaraan, berasal dari Rusia.. Namanya sudah tersohor di seluruh New South Wales, sebagai seorang musikus (ahli musik) dan guru Musik pada Pendidikan “Privaat”. Orang itu benar-benar pandai. Dalam waktu yang singkat saya telah dididik secara keseluruhan. Sayang pertemuan ini terlambat (kasip). Hanya sebulan bergaul dengannya.
PERJALAN KERETA API DARI SYDNEY KE PERTHSudah diceritakan bahwa selam enam bulan aktif di Sydney, rombongan disebarkan ke daerah dan negara-negara bagian lainnya. Ada yang dipindahkan ke Melbourne, Adelaide, Brisbane, New Castle, Hobart, dan lain-lain. Si Etjle kebagian tempat yang paling jauh: PERTH (di Australia Barat). Jarak dari Sydney ke Perth ada lima kali jarak Anyer ke Banyuwangi, perjalanan tiga hari tiga malam dengan kereta api.
Berangkat dari Sydney jam lima sore. Kereta api yang dipergunakan tidak sama dengan “kereta api malam” di negara kita, tetapi lebih pantas kalau disebut “hotel berjalan”. Setiap penumpang mempunyai masing-masing kamar tersendiri, lengkap dengan tempat tidur, tempat duduk, meja tulis, wastafel dan closet, yang semuanya menempel pada dinding. Di tiap ruang (apartment terdapat 6 buah tombol untuk ceilinglight, bedlight, heater, fan (waktu itu belum ada air conditioning), emergency dan tombol untuk memanggil kondektur. Selain dari itu pada kereta tersebut ada gerbong restauran seperti di kita, dan sebuah gerbong salon (saloon-car) untuk para penumpang duduk mengobrol dan rekreasi).
Di Melbourne dan di Adelaide kereta tidak berhenti beberapa menit, tetapi beberapa jam. Dengan demikian kita mempunyai waktu yang cukup kalau mau keluar dari stasion, jaln-jalan sambil melihat keadaan kota dan lain-lain. Hand-bagage (tas tangan) dan mantel bisa ditinggal di tempat khusus di stasion, terkunci dan kuncinya kita bawa. (Di Adelaide Si Etjle sengaja menyempatkan diri untuk mencoba naik troley-bus (bus listrik) yang di Sydney tidak ada).
Mungkin masih ingat, apa yang pernah kita pelajari dari Ilmu Bumi Van Balen, yang bunyinya kira-kira begini:
Bagian tengah sangat kering, seperti gurun pasir. Oase (perdu) tidak tumbuh di ditu. Di bagian kering yang terbuka matahari menyengat dengan panasnya. Pada bagian-bagian yang kejatuhan hujan, ditumbuhi dengan “scrub”, sejenis tanaman liar yang tumbuh di Australi, tingginya, kehijauannya merupakan perdu yang terlihat sama.
Benar, cocok seperti yang diceritakan dalam buku. Makin jauh kereta meninggalkan Adelaide, rumah dan kampung kelihatan makin jarang. Demikian juga pepohonan, makin lama makin jarang, dan akhirnya hilang sama sekali, tidak terlihat pohon sebatang pun, diganti oleh perdu dan semak (scrub), yang juga makin lama makin jarang.
Keesokan harinya, ketika bangun pagi, waktu melihat melalui jendela, tidak satupun yang terlihat kecuali pasir dan langit. Hanya pasir yang mengelilingi. Padang pasir, hanya padang pasir yang terhampar sejauh-jauh mata memandang. Kamu akan melihatnya dengan jelas, dan kereta berjalan dengan kecepatan paling sedikit 100 km melalui padang pasir ini, dataran yang tak ada ujungnya. Padang pasir Victoria yang luas.
Sekonyong-konyong teringat pada waktu dahulu.
Kang Ikbar, Kang Gandi, Kang Ihing, Kang Acep, Kang Dodo pasti masih ingat, waktu kita (jaman de Kruyter), pada suatu sore berkumpul di ruang rekreasi, mendengarkan ceritera perjalanan dari seorang “pejalan kaki pengeliling dunia” yang bernama Kriss, - seorang pemuda bangsa Belanda yang berbicara dengan bahasa daerahnya (dialek) yang telah melakukan perjalanan kaki mengelilingi dunia. Ia menceriterakan tentang pengalamannya...melalui eropa...Asia, dan juga padang Australia. Kita percaya pada ucapannya (ceriteranya). Kita tidak mengatakan apa-apa dan mengagumi pengelana yang gagah ini.
Ah...kalau sekarang bisa bertemu dengan orangnya, oleh Si Etjle akan diolok-olok sampai merah telinganya. Omong kosong semuanya itu, Kriss tidak lebih dari seorang “pembual, penjual dongeng”. Tidak mungkin bisa berjalan kaki di padang pasir seperti demikian...tidak akan bisa minum.
Siang berganti malam, Si Etjle tidur nyenyak di dalam cabin, diayun-ayun oleh giyangan kereta api. Ketika bangun pagi-pagi, keadaan di luar terlihat berbeda lagi. Sudah mulai terlihat tumbuh-tumbuhan, walaupun jarang. Sewaktu-waktu terlihat binatang liar, berlarian di antara semak-semak terkejut oleh kereta api. Tak lama kemudian, terlihat pohon eucalyptus pertama, merupakan tanda bahwa telah mendekati perkampungan.
Selanjutnya, setelah melalui tegalan yang tak terlihat ujungnya, berganti-ganti melalui kampung dan peternakan, akhirnya Si Etjle sampai tempat tujuan, yaitu PERTH.
DI PEMUKIMAN BARUSelama ada (tinggal) di Perth, pada umumnya merasa lebih kerasan dari pada waktu tinggal di Sydney. Pertama, karena sekarang telah bisa menempatkan diri di lingkungan kehidupan orang asing, kedua, karena apa yang dikerjakan memang lebih menyenangkan, serta memadai apa yang dicita-citakan oleh Si Etjle.
Keperluan sehari-hari Si Etjle dalam mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman, diatur oleh EDGAR NOTAGE Superintendent of Music, Speech and Drama, Education Department of Western Australia, atau oleh salah seorang dari bawahannya, Guru pembimbing musik: 1. REX HOBCROFT (pemain biola), 2. MISS DORIS DIVAL (Pembimbing Paduan Suara), 3. MISS MARGARET HOPE (pemain piano).
Acara kerja Si Etjle yang tetap ialah ikut “berkeliling” ke sekolah-sekolah dengan Guru pembimbing yang tersebut di atas, mempelajari bagaimana cara mereka membimbing guru-guru Seni Suara, mendengarkan pelajaran musik melalui radio, dan lain-lain. Kalau sewaktu-waktu datang ke Sekolah Guru, sekarang bukan lagi mendengarkan pelajaran yang menimbulkan kantuk, tetapi mau “ngobrol” dengan dosen-dosen, atau berkenalan dengan para mahasiswa.
Pada umumnya mereka yang diajak ngobrol ingin mengetahui tentang “perjuangan kemerdekaan kita”, pembangunan negara, pendidikan di Indonesia dan lain sebagainya, karena pada waktu itu negara kita belum begitu terkenal di Australia.
Kunjungan yang teratur ke Universitas Australia Barat, merupakan acara yang sangat penting, karena ke situlah kedatangan orang besar FRANK CALLAWAY dengan teratur, Reader in Music, yang dulu pernah diceriterakan oleh IGOR HELMENITSKY ketika di Sydney.
PULANGSuatu ketika Notage memberitahu, bahwa tugas belajar di Australia sudah dianggap selesai. Seperti hanya sekilas. Tinggal dua minggu lagi, Si Etjle akan pulang ke tanah airnya. Sejak saat itu sudah tidak diharuskan lagi ke kantor. Tinggal membereskan dan mengurus yang ada hubungannya dengan keberangkatan, seperti: Membuat laporan tertulis ke Departemen Pendidikan, melunasi pajak, kunjungan perpisahan kepada teman-teman dan kenalan dan lain-lain.
Surat-surat yang datang dari kampung semua dibaca lagi. Dengan teliti dibaca satupersatu, kalau-kalau ada pesanan dan permintaan anak yang belum terpenuhi. Ternyata belum membeli “celana renang” untuk Iwan, dan kalung untuk adik-adiknya.
Si Etjle mau pulang. Sebentar lagi akan berada kembali di rumahnya, di antara istri dan anak-anak yang sangat dicintai. Merupakan suatu impian yang manis.
Singkatnya, pada suatu pagi yang indah tanggal 16 Desember 1955, Si Etjle pergi meninggalkan tempat tinggalnya, Mosman Park 5, menuju pelabuhan Fremantle, diantar oleh Mrs. Horlock yang menjadi induk semangnya. Di kapal NEPTUNE, kapal Itali, ke 16 teman telah ada sejak lama naik ke kapal dari tempatnya masing-masing, dan Si Etjle yang paling lambat, ketika di atas dek pada memeluk, dan disebut “anak yang hilang”.
Setelah 5 hari diombang-ambing oleh gelombang samudera Indonesia, tanggal 21 Desember 1955 Si Etjle tiba di Tanjung Priuk dengan selamat, disambut oleh istri tercinta dengan anak-anak.
Tugas telah dipenuhi. Tinggal kenangan yang takkan mudah dilupakan dan perasaan terima kasih serta simpati yang hangat kepada teman-teman, yang ada di negara asing semoga ada dalam keadaan baik selamanya.
Malam itu juga meninggalkan jakarta. Dan pada hari berikutnya ia menginjakkan kakinya di halaman rumahnya, dengan perasaan lega Si Etjle memasuki rumahnya.
Benarlah kata-kata...seindah-indahnya negeri orang, masih indah negeri sendiri.
SELINGANKang Ihing : “Barangkali banyak yang aneh di Australia, ya?”.
Si Etjle : “Tentu saja. Bahkan waktu masih di pesawat sudah menemukannya. Suatu ketika datanglah sorang pramugari membawa makanan dalam mangkok. Rupanya seperti keripik*). Ketika dicicipi, tidak ada rasanya. Tetapi karena takut disebut dusun (kampungan), walaupun tidak enak tetap dimakan, sampaikan hampir habis.
Setelah itu, datanglah yang membawa susu dan gula pasir. Hah, ternyata cara memakannya itu demikian...diseduh dahulu dengan susu, kemudian diberi gula.”
Kang Ihing : “Dasar orang Bojongjengkel...”
Setelah ke Australia, Daeng Soetigna kelak seringkali bepergian ke luar negeri sambil memperkenalkan angklung.
*) Yang seperti keripik itu, dibuat dari jagung, dan disebut cornflakes.
Only AWI Member can write comments.
Please login or register.