|
Bandung - Pemain musik angklung harus mulai mencari eksplorasi bunyi dan lagu-lagu baru. Garapan aransemen dan bunyi yang eskploratif menjadi modal bagi angklung agar tetap eksis di Indonesia dan dunia. Konser Musik Angklung yag digelar di Gedung Merdeka sebagai paket acara dalam 100 tahun memperingati Daeng Soetigna berlangsung semalam (20/12/2008). Dihadiri kurang lebih 200 orang, konser yang melibatkan 4 kelompok dari Jakarta dan Bandung itu mendapat pandangan berbeda dari penontonnya.
Seorang ibu yang tidak mau namanya disebut mengatakan konser berlangsung bagus dan meriah. hal yang sama seperti diutarakan oleh perupa ternama dari Bandung, Sunaryo, yang menikmati pertunjukkan selama kurang lebih dua jam itu. Namun, Sunaryo yang juga punya ikatan saudara dengan Daeng, menambahkan, para penampil seharusnya bisa menampilkan bunyi-bunyian baru dari musik bambu. Dengan begitu, katanya, penonton juga mendapat pengalaman kesenian yang berbeda dari konser-konser angklung lainnya. "Kan sudah seratus tahun sejak pa Daeng menemukan notasi diatonis dari angklung," ujar pemilik Selasar Sunaryo Art Space ini. Hal senada diutarakan pula oleh Rektor Universitas Padjadjaran, Ganjar Kurnia. Menurutnya, pertunjukkan tidak hanya menampilkan tangga nada diatonis. Tapi kolaborasi dengan nada-nada pentatonis juga harus ditampilkan. "Seharusnya lebih memperlihatkan perjalanan seratus tahun angklung dari yang tadinya hanya bisa memainkan lagu daerah dengan nada pentatonis terus ke tangga nada diatonis yang bisa memainkan lagu-lagu populer," tambahnya Konser yang menampilkan kelompok angklung dari Kabumi Universitas Padjadjaran, Gentra SEBA Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Bandung, SD Cikal Jakarta dan Angklung Web Institute (AWI), masih menampilkan lagu-lagu seperti Bengawan Solo, Kopi Dangdut, sebuah lagu dari Perancis berjudul La Vie en Rose dan lagu klasik Blue Danube Waltz. Lagu-lagu ini paling sering dimainkan dalam pertunjukkan angklung.
"Pilihannya masih mengulang-ulang dari konser sebelumnya. Harusnya ada lagu baru," ujar Ganjar. Sebelum konser, Erna Pirous, putri dari Daeng Soetigna, menyerahkan buku berjudul "Membela Kehormatan Angklung" kepada Sakhyan Asmara, Deputi I Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Setelah itu konser dibuka dengan Lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan 13 lagu seperti� Bengawan Solo, Kopi Dangdut, sebuah lagu dari Perancis berjudul La Vie en Rose dan lagu klasik Blue Danube Waltz. Dan, ditutup oleh lagu Padamu Negeri. Setiap lagu diiringi oleh satu dari lima komposer diantaranya Obby A.R Wiramihardja dan Eddy Permadi. Keduanya adalah murid dari Daeng Soetigna. Agus Rakasiwi - detikBandung Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |