|
Ambu Tetet yang baik. Alo-alo yang budiman. Saya pengagum Abah Iwan.
Ketika saya remaja – dan sebagaimana lazimnya remaja selalu punya idola – idola saya adalah Abah Iwan. Saya ingat benar sebuah peristiwa yang bahkan hingga kini masih tergambar dengan jernih dalam ruang audio-visual hati saya. neve Tahun 1970.
Ketika itu acara Malam Kesenian SMA Negeri 3 Bandung yang diselenggarakan di Gelora Saparua – Jl. Saparua Bandung, dan saya siswa baru, kelas satu. Puncak acara malam itu adalah penampilan grup angklung SMAN 3 Bandung (yang sejak dulu sampai sekarang punya reputasi bagus). Istimewanya: karena akan tampil seorang “bintang tamu” yang akan menyanyikan sebuah lagu diiringi musik angklung SMAN 3 Bandung.
Ketika tiba saatnya, MC memanggil bintang tamu itu. Maka – dengan gesit – melompatlah ke atas panggung seorang pemuda gagah, bercelana “jeans enam saku” (celana jins yang kala itu tak sembarang anak muda bisa memakainya karena “langka dan mahal”), bersepatu tentara, berkemeja hijau militer. Gerak-geriknya simpatik. Jantan dan gagah sekali. Intro musik terdengar. Dan sesaat kemudian meluncurlah lagu “Exodus Song” (“This Land is Mine”) yang dibawakan dengan sangat impresif. Saya tersihir. Luar biasa. Saya melihat penyanyi itu seperti seorang Kepala Suku Indian yang memberi “warning” kepada orang-orang “muka pucat” bahwa:”…tanah ini bagi kami, Tuhan menganugerahkannya…. Until I die, this land is mine…” Penonton yang 90% anak muda, siswa SMA, pun terkesima. Dan gemuruh tepuk tangan baru pecah tiga-empat detik setelah gaung suara musik dan nyanyi senyap. Gemuruh panjang. Penyanyi itu pun membungkukkan badan memberi hormat pada penonton kemudian melompat turun dari panggung. Saya pun terkagum-kagum. Lelaki, bintang tamu, itu adalah Iwan Abdulrachman. Kala itu Iwan Abdulrachman dengan nama beken Iwan Ompong memang telah menjadi tokoh yang digandrungi remaja, terutama para pencinta alam. Kekaguman itulah yang kemudian membimbing saya menjadi dekat dengan keluarga Abah Iwan. Saya sangat menghormati Apa dan Ema sebagai orangtua yang hangat, penyayang dan egaliter. Saya sangat bersahabat dengan Ari (saking karibnya, kami punya sapaan khusus bagi nama kami masing-masing). Pun kemudian dengan Unung, Nina, Oni, Kang Maman, Ceu Ida, Teh Win. Meski kemudian jalan kehidupan membuat kami jarang saling jumpa namun ajaibnya, bagi saya, sambung rasa tetap merentang dan itu menimbulkan kehangatan dalam hati manakala saya teringat keluarga Abdulrachman Natadiria. *** Lulus SMA, mulai memasuki alam kedewasaan, ternyata kekaguman saya pada Abah Iwan makin menjadi-jadi. “Tingkah polah” Abah Iwan dalam pelbagai hal menginspirasi anak muda bahkan menjadi trend yang jejaknya terbaca hingga sekarang. Celana denim, jeans, dan baju hijau tentara atau warna khaki; motor besar Harley Davidson; mobil Jep tua; sepeda gunung; terjun payung; folksong; silat; serta seabreg kegiatan lainnya yang menginspirasi anak muda untuk mengolah raga dan sukmanya seraya tetap “gaul”. Ketika Abah Iwan sebagai “pemuda sipil” ikut pendidikan kemiliteran dalam pendidikan resmi militer dan mendapat brevet maka kaum muda pun mendapat gambaran betapa institusi tentara bukanlah lingkungan yang angker dan arogan. Ia juga bisa menyapa dan merangkul. Banyaklah kemudian pemuda-pemuda pencinta alam mengikuti pendidikan kemiliteran untuk mendapat pengetahuan yang lebih sistematis ihwal keterampilan “bertahan di alam bebas/terbuka”. Hubungan “tentara” dan “sipil” harmonis, sangat asyik. Saya pun tak ketinggalan menduplikasi Abah Iwan. Kelas satu SMA, 1970, waktu liburan kwartal, dua pekan saya ikut latihan infanteri di (dulu) Dolatpur (Depo Latihan Tempur) Cikole, Lembang. Saya masih ingat seorang pelatih mountaineering yang saya kagumi: Sersan Pare asal Sulawesi. Saya menghormati beliau karena gerak-gerik dan sifatnya, sebagian besar, mirip Abah Iwan. Gagah dan rendah hati kendati ia seorang tentara “bagian tempur”. Tapi saya tidak boleh mendapat brevet karena tidak mengikuti pendidikan sampai selesai. Saya punya waktu cuma dua pekan. Ketika mereka longmarch ke Cilacap, saya pulang. Sekolah menanti saya. Saya tidak berani bolos karena SMAN 3 sangat keras menegakkan peraturan. Beberapa tahun kemudian, sekira 1976, saya mendengar berita Sersan Pare gugur dalam tugas di Kalimantan. Suatu ketika Abah Iwan memakai aksesori berupa “kalung tasbih kayu”. Rangkaian 99 butir kayu melingkar di leher Abah Iwan. Alih-alih kenes atau genit aksesori kalung itu malah menyiratkan kegagahan namun tetap artistik dan modis. Maka serta merta – diawali oleh para pencinta alam – “kalung tasbih” menjadi trend di kalangan anak muda. Saya pun berburu tasbih kayu hingga ke pondok-pondok pesantren di desa-desa. Tapi bukan Abah Iwan kalau tak punya kredo original: “… Ayeuna, barudak ngora ngaranggo tasbeh janten kangkalung. Modis, trendi. Keun we. Lami-lami moal mung ukur kanggo aksesori namung tambih uninga tasbeh teh “alat” kanggo ngemutan yen urang, teu kendat-kendat, kedah dzikir. Janten engke mah, nya modis, nya dzikir …” Tak heran jika lagu-lagu gubahan Abah Iwan dengan muatan religiusitas yang sublim, bisa lahir kala Abah masih sangat muda. Namum yang membuat saya merasa “satu jiwa” dengan Abah Iwan karena Abah Iwan adalah seorang Pandu (dengan “P” kapital). Keyakinan saya, Abah Iwan dan saya pasti pernah sama-sama mengucapkan janji dengan taruhan kehormatan diri. Janji Pandu. “Demi kehormatanku. Aku Berjanji. Akan Bersungguh-sungguh …..” Janji itu pastilah akan terus dilakukan melalui “ulang janji” dalam rentang kehidupan kami. Dan memang, setidaknya, setahun sekali, saya melaksanakan “ritual ulang janji” bersama dengan “para Pandu” yang kami bina sejak 1971. Sebagai upaya untuk menjaga “ruh Tri Satya dan Dasa Dharma” agar tetap hidup dalam keseharian kami. Kata Abah: “Sekali kita berjanji maka janji itu akan mengikat kita selamanya. Apalagi kita berjanji ‘demi kehormatan diri’. Berjanji dengan sungguh-sungguh mengucapkan ‘demi kehormatanku’ adalah ‘setingkat dibawah’ janji berlandaskan ‘demi Allah’ karena manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah. Maka jika kita mengingkari janji itu, kita adalah manusia tanpa kehormatan. Yang tak punya otoritas untuk mengatakan apapun.” Insya Allah, sampai ahir hayat akan saya camkan. *** Abah juga menyiratkan sesuatu yang sangat fenomenal dalam khazanah budaya Sunda. Iwan Abdulrachman dan Djanuarsih Sariawati memaklumatkan sebutan “Abah & Ambu” (bagi putra-putrinya) tatkala trend masyarakat kita sedang bersemangat berkiblat ke Dunia Barat, ke Amerika dan Eropa Barat. Ke pusat peradaban modern. Ketika itu sebutan “Abah & Ambu” benar-benar tak pernah terfikirkan bisa menjadi sapaan kepada ibu dan ayah yang bermukim di kota besar seperti kota Bandung. Sebutan “Abah & Ambu” yang menjadi ciri orang desa mana mungkin bersanding tanpa terasa “kampungan” dengan sebutan “ibu-bapa”, “ayah-bunda”, “mama-papa”, “mami-papi”, bahkan “mommy-daddy” sebagai trademark masyarakat modern. Namun Abah Iwan melakukan itu. Alangkah original. Alangkah indah. Sangat spesial, karena setelah itu sebutan lokal “Abah & Ambu” kemudian menasional bahkan mengglobal. Keluarga muda yang mapan dan modern di kota besar, setelah itu, tak lagi risi menggunakan sapaan yang “sangat ndeso” itu (sekarang ini, cobalah daftarkan alamat e-mail dengan nama depan “abah” atau “ambu”, maka jangan kaget kalau dijawab bahwa alamat yang menggunakan kosa kata “abah” atau “ambu” sudah penuh sesak dan kita dianjurkan memakai nama lain). Itulah istimewanya Abah Iwan. Semakin istimewa karena Abah Iwan bersanding dengan Ambu Tetet. Ya. Ambu Tetet perempuan yang juga sangat saya kagumi. Bayangkanlah. Ketika saya masih di SMP, kakak saya sudah menjadi siswa SMA 3 Bandung. Saya selalu membaca ‘Majalah Siswa SMA 3’, majalah yang dikelola dan diterbitkan oleh para siswa. Dalam majalah itu, secara tersirat dan tersurat, sangat sering ditulis bahwa ada seorang siswi, anggota DP (Dewan Pengurus, sekarang OSIS) Seksi Keputrian yang menjadi “top-young”nya (primadona) para pelajar – anak muda kota Bandung. Dia sangat cantik, berlesung pipi, pandai, halus, ramah, dan disegani kawan-kawannya. Pendek kata: selangit! Begitulah awak majalah yang semuanya anak laki-laki kerap menulis tentang siswi pujaan mereka. Siswi itu, seperti yang tertera di Majalah SMAN 3, namanya Tetet Djanuarsih. Sejak itu saya memelihara sosok perempuan luar biasa itu dalam imajinasi saya. Ketika saya masuk SMAN 3 saya tak bertemu dengan Seksi Keputrian favorit para siswa itu karena ia sudah lulus. Maka ada “sepasang idola” dalam masa remaja saya. Pemuda Gagah dan Perempuan Pujaan. Siapakah pasangan hidup masing-masing mereka kelak? Hingga suatu ketika terbetik kabar: Iwan Ompong menikah. Dan perempuan pilihannya: Tetet Djanuarsih. Hati saya seperti meledak karena gembira dan bahagia. Bayangkanlah: dua orang idola saya menjadi suami istri, menjadi dua bagian yang menyatu. Ajaib. Saya bahagia bukan alang kepalang padahal ketika itu boleh jadi Abah Iwan dan Ambu Tetet tak kenal saya. Saya yakin bahwa Ambu Tetet adalah perempuan pilihan karena seorang Abah Iwan menuliskan lirik lagu – saya percaya itu untuk Ambu Tetet — yang (bagi saya) syair pujaan sangat indah, dalam, puitis, juga romantis sehingga menggetarkan kalbu. Kau yang tak pernah miskin akan doa Kau yang menyalakan pelita dalam hidupku Jadi penerang jalanku, langkah demi langkah Kau bagai berjuta mawar di hatiku Kau ilham bagi syair dan laguku Hatimu dan tutur sapamu: penyejuk jiwa Aku rela, aku rela jatuh dalam pelukanmu Dengan doamu langkahku kian jadi pasti Aku rela, aku rela membagi kasih denganmu Walau ‘ku tahu beribu tantangan untukku Kau yang kutahu ‘slalu merindukanku Doamu ‘slalu membayangi diriku ini ……… Hati saya selalu bergetar bila mendengar lagu “Kau”. Saya pun berangan-angan ingin memuja perempuan sedalam dan seindah itu jika kelak saya menikah. *** Ketika saya sudah dewasa, menikah dan dikaruniai Allah anak-anak, saya tetap punya idola, tetap menjadi pengagum Abah Iwan. Saya mengagumi rumah Abah Iwan yang dipenuhi pepohonan: tertata rapi, terawat, indah. Saya kerap berfikir: mengapa pepohonan yang ditanam di rumah Abah Iwan selalu subur dan berbunga pastilah karena cinta. Mahluk Allah berupa pepohonan itu pasti merasakan bahwa Abah, Ambu, Adri, Agung, Avi, Banis, Aya, dan seisi rumah menyayangi mereka sehingga mereka tumbuh dengan riang dan bahagia. Keluarga yang santun, hangat, saling hormat dan saling menyayangi. Itulah keluarga impian saya. Maka saya dan istri lagi-lagi menduplikasi Abah Iwan & Ambu Tetet. Anak-anak saya dan teman serta kerabat dekat pun menyapa saya dengan sebutan “Abah” dan setiap saya mendengar orang memanggil saya dengan sapaan “abah”, saya merasa amat bahagia karena sapaan itu menguarkan (bernuansa) kehangatan, keakraban, silaturahmi yang erat. Hatur nuhun Ambu, terima kasih Abah, atas isnpirasi yang tak pernah putus kami — saya dan istri — reguk sepanjang masa. *** Wilujeng 60 taun. Mugia Allah Anu Maha Welas Asih teu kendat-kendat masihan barokah kanggo kulawargi Abah Iwan. Amin ya robbal ‘alamin. Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baktosna, pun: Aat Soeratin Rachmawati rachman Jiwa Palamarta Cahara Nusa Antara http://abahiwan.wordpress.com/2007/09/06/saya-pengagum-abah-iwan-by-aat-suratin/ September 6, 2007 by abahiwan
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |