|
Siapa yang tak kenal dengan alat musik yang satu ini, Angklung. Alat musik tradisional itu, saat ini tidak hanya marak dikalangan dewasa saja. Anak muda yang didominasi para pelajar pun tidak kalah ketinggalan untuk melestarikan kesenian ini.
Tak heran, jika dibeberapa sekolah khususnya setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) rata-rata memiliki grup musik angklung. Bahkan banyak diantara mereka yang menjadikan kesenian ini sebagai ekstrakulikuler. Sebut saja misalnya SMA 5, SMA 3 Bandung, SMA 2, SMK 10, dan beberapa sekolah lainnnya.
Sebelum digandrungi kalangan remaja, jika menilik sejarahnya, perkembangan angklung berbeda satu dengan lainnya. Tergantung sejarah didaerahnya masing-masing. Sebuah literatur menyebutkan, angkulung berasal dari daerah Bogor, Banten, Cirebon dan beberapa daerah lainnya. Di Bogor, lahirnya angklung diawali dari ritual tradisonal untuk mendatangkan keberkahan karena musim kemarau yang berkepanjangan. Seorang pemuda tercatat bernama Mukhtar, melakukan meditasi untuk membuat Angklung. Al hasil ritual menolak bala berhasil setelah dimainkan dengan musik angklung. Di Banten tepatnya di Baduy Jero, musik Angklung dimainkan dalam berbegai upacara adat yang digelar kala itu. misalnya dalam rangka menghormati sang dewi kesuburan dan pertanian. Selain itu, angklung ini pun dimainkan untuk acara hiburan. Sebuah sejarah juga mencatat, angklung pernah dijadikan sebagai alat musik untuk memberi semangat saat perang kerajaan. Termasuk ketika Sultan Ageng memimpin di Banten, Angklung digunakan sebagai alat penyemangat saat perang melawan pasukan Belanda. Perkembangan selanjutnya, sekitar tahun 1938, Angklung mulai dimunculkan kembali dengan disponsori oleh Daeng Soetigna. Musik angklung yang awalnya menggunakan tangga dana Pentatonik, berkembang menjadi menggunakan tangga nada diatonis. Tangga nada ini, sudah menggunakan tangga nada yang memiliki oktaf 7 nada. Awal berkembangnya musik angklung ketika tahun 1950 digelar Konfrensi Asia Afrika di Bandung. Saat itu musik angklung kali pertama dipertunjukan kepada dunia internasinal. Sejak saat itu, angklung terus berkembang dan dikenal oleh dunia internasional. Perkembangan selanjutnya, Angklung semakin banyak digandrungi oleh berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan budayawan, tetapi juga kalangan muda yang ingin mengenal dan melestarikan budaya Sunda yang satu ini. Saat ini, salahsatu icon pelestarian angklung berada di saung Ujo. Tak terkecuali beberapa sekolah yang juga menjadikan angkulung sebagai kesenian bergengsi yang memiliki nilai tinggi. Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) Negeri 10 yang berada di jalan Terusan Ciwastra, kota Bandung sengaja menjadikan angklung sebagai salahsatu ekstrakulikuler di sekolahnya. Layaknya ekstrakuler yang digandrungi para siswa masa kini, ekskul angklung pun mendapatkan peminat yang tidak sedikit jumlahnya. ”Di SMK kami, angklung kami jadikan ekstrakulikuler kesenian. Hal itu berawal dengan adanya animo siswa yang ingin menggeluti alat musik yang satu ini,”ujar instruktur Angklung di SMK 10 Bambang Satriadi. Dengan demikian, pihaknya dapat lebih konsentrasi membimbing siswa yang berminat dengan alat musik yang satu ini. Pihaknya pun mengaku dalam satu minggu pihaknya mengalokasikan waktu khusus untuk berlatih angklung. Kendati tampak mudah, namun untuk mempelajari alat musik yang satu ini memerlukan kedispilinan dan ketekunan. ”Kedepannya, saya berharap alat musik ini menjadi salahsatu kurikulum wajib di Jabar,”paparnya. Tak jauh beda dengan SMK 10, SMA 5 Bandung pun menjadikan angklung sebagai ekstrakulikuler disekolah. Bahkan kesenian yang satu ini pun menjadi kesenian yang memiliki nilai eklusifitas tinggi dibandingkan dengan eskul lainnya. Salah satu siswa SMA Negeri 5 Bandung, Rista Mardian,17, mengaku dengan musik angklung dirinya bisa tampil beda dengan yang lainnya. Karena menurutnya, selama ini, kebanyakan remaja cenderung pada alat musik yang sama antara satu dengan lainnya. ”Bermain angklung merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya bisa tampil beda dari teman lainnya yang monoton pada alat musik modern saja,”ujar Rista di SMA 5, Jalan Belitung, Kota Bandung. Menurutnya, hampir semua anak sesuasinya dapat dipastikan bisa memainkan alat musik modern. ”Semua anak seusia kami mungkin bisa memainkan piano, gitar, dan lainnya, tapi untuk angklung tidak semua bisa. Kami berani tempil beda,”ceritanya. Menurutnya, memainkan angklung memerlukan keterampilan khusus yang tentu saja tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. ”Kalau alat musik ini, tidak semua orang bisa memainkannya. Perlu keterampilan khusus dan ketekunan dalam mempelajarinya,”imbuh Rista. Ia mengaku sejak berada dibangku SMA telah menekuni untuk mempelajari alat musik ini. Kebetulan ditempatnya sekolah terdapat kelompok yang menggandrungi musik tradisional itu. Hal senada pun dipertegas oleh Sitta Nurmasitta, 16, siswa SMA 5 Bandung. Ia mengaku terjun menggeluti musik angklung berangkat dari keinginannya memajukan budaya Sunda. Karena menurutnya, jangan sampai orang Sunda tidak mengenal dan mengetahui budayanya sendiri. ”Dengan mengenal dan mempelajari musik angklung, merupakan salahsatu usaha untuk melestarikan budaya Sunda,”ujar Sitta. Menurutnya, musik angklung tidak menjadikan dia kurang percaya diri dinatara aliran musik lainnya. ”Dengan memainkan alat musik ini, kita bisa menjadi tren center diantara yang lainnya. Mereka melihat, memaninkan angklung adalah hal unik yang tidak semua orang bisa memainkannya,”ujarnya lebih lanjut. Senada dengan Sitta, Selly Nisa Kania, 15, siswa SMK N 10 mengaku tidak gengsi membawakan musik angklung. Palah menurutnya, dengan membakan musik angklung, dapat menampilkan suasana dan warna musik yang berbeda. ”Namun pastinya, kami mendapatkan nilai-nilai positif dari memainkan alat musik angklung ini,”ujar Selly. Menurutnya, dirinya mendapatkan nilai-nilai positif berupa kebesamaan, kedisiplinan dan tanggung jawab. Hal itulah yang saat ini jarang didapatkan dari kelompok musik musik biasa. Karena menurutnya, satu saja lepas dari kedisplinan mengetukkan angklung akan berakibat fatal. Disitulah kebersamaan dan kedispilinan akan dipartaruhkan. Sementara itu, ketua kelompok penggandrung musik angklung di SMA 5 Bandung Riyan Dwi Julianda, 16, mengaku, sejak kelompok musik angklung ini di didirikan, pihaknya selalu di undang untuk menampilkan kebolehannya itu. ”Setiap ada agenda sekolah, kami selalu diundang untuk menampilkan kebolehan kami dalam memainkan musik angklung,”ujar Riyan yang saat ini menjabat sebagai ketua Corps Angklung V (CAV) SMA 5 Bandung. Selain itu, kelompoknya pun sering diundang berbagai ivent dan festival. Tak heran, SMA ini pernah tampil pada peringatan Konfrensi Asia Afrika (KAA). Termasuk menyabet berbagai kejuaraan festifal angklung di ITB dan Kodam Siliwangi. (arif budianto) Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |