|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 84 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1720 terdaftar |
 | 1 hari ini |  | 3 minggu ini |  | 140 bulan ini |  | Terbaru: kocek | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1722
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
TAK ADA LAGI (Pikiran Rakyat, 10 Juli 2008) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Hazmir
|
|
Thursday, 10 July 2008 |
|
BANDUNG BARAT, (PRLM).- KERAJINAN anyaman bambu sudah menjadi darah daging buat masyarakat Kp. Gombong Desa Budiharja Kec. Cililin Kab. Bandung Barat. Lebih dari seabad sudah profesi ditekuni masyarakat setempat, secara turun-temurun.
"Saking lamanya, kami sendiri tak tahu lagi siapa yang memulainya. Terus terang, kami kehilangan sejarah," ujar Sahria (72), salah seorang pengrajin, ketika ditemui "PRLM", Kamis (10/7).
Saat ini, sedikitnya terdapat 500 umpi yang menekuni profesi tersebut. Sebenarnya, tak banyak uang yang didapat dari hasil penjualan produk yang mereka buat: nyiru, ayakan, dan tolombong. "Ya, cukuplah untuk makan anak istri dan meneruskan usaha," ucap Husin (33), warga lainnya. Ironinya, meski dinamai "Kampung Gombong", bahan baku kerajinan justru diimpor dari wilayah lain, seperti Sindangkerta, Gununghalu, dan Cilangari. "Di sini memang masih banyak rumpun bambu, tapi teu kapake. Yang ada cuma awi temen, sementara kami membutuhkan awi tali sebagai bahan baku. Makanya, kami terpaksa `impor`. Itulah yang membuat ongkos produksi tinggi. Sementara, harga jual nyiru dan tolombong hanya Rp 3.000,00 sedangkan ayakan Rp 4.000,00/buah," kata Sahria. Menurut dia, sebelumnya, di kampung itu, banyak terdapat kebun awi tali. Tapi, kebun-kebun itu ditenggelamkan bersamaan dengan difungsikannya waduk Saguling, 22 tahun silam.(Hazmir/"PRLM"/A-140)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|