|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 116 guests online |
|
AWI Members |
 | 1720 registered |
 | 1 today |  | 3 this week |  | 140 this month |  | Last: kocek | |
|
AWI WebStat |
Members: 1722
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
BELUM TERSENTUH KONSERVASI (Pikiran Rakyat, 21 November 2008) |
|
|
|
Written by Catur Ratna Wulandari
|
|
Friday, 21 November 2008 |
|
Potensial Secara Ekonomi dan Bisa Dikembangkan  Bambu bisa jadi merupakan tanaman paling populer. Tanaman itu tersebar di seluruh kawasan di Indonesia, karena tidak membutuhkan kondisi khusus untuk tumbuh. Di pekarangan rumah pun bambu bisa dijumpai. Saking mudahnya menemui tanaman ini, sering kali ia tidak dipandang istimewa. Nasibnya hanya berakhir sebagai pagar rumah atau kerai. Padahal bambu menyimpan potensi yang luar biasa. Tidak sulit mengenali tanaman ini. Batangnya bulat, berlubang, beruas-ruas, dan tumbuhnya merumpun. Di seluruh dunia terdapat sekitar 1.250 jenis bambu dari 75 marga. Sedangkan di Indonesia terdapat sekitar 39 jenis bambu dari 8 marga dan lebih dari separuhnya berada di Jawa Barat. Tidak salah jika kemudian tanaman ini menjadi ikon masyarakat Sunda.
Tanaman yang termasuk dalam anak suku bambusoideae dalam suku Poaceae atau gramineae (rumput-rumputan) ini mudah ditanam di mana saja dan memiliki ketahanan yang luar biasa. Bahkan, pada saat Hiroshima luluh lantak akibat bom atom, bambu satu-satunya tanaman yang masih bertahan hidup. Bambu dikenal akrab masyarakat Sunda. Berbagai peranti sehari-hari terbuat dari bambu. Sebagian besar alat musik tradisionalnya terbuat dari bambu. Angklung, seruling, dan gamelan bambu adalah sebagian alat-alat musik yang terbuat dari bambu. Angklung sebagai simbol kesenian Sunda mendapat sambutan luar biasa dari dalam maupun luar negeri. Tingginya permintaan terhadap angklung menjadikannya tidak sekadar karya seni, tetapi juga berpotensi menjadi suatu industri. "Dalam sebulan kami harus menyiapkan setidaknya 10.000 angklung," kata Taufik Hidayat Udjo, Direktur Utama Saung Angklung Udjo di Jln. Padasuka Kota Bandung, Kamis (20/11). Selain memenuhi kebutuhan domestik, Saung Angklung Udjo juga memenuhi permintaan dari luar negeri seperti Korea, Malaysia, Singapura, dan Australia. Awi hideung (bambu hitam) merupakan jenis bambu yang paling tepat digunakan untuk membuat angklung. Diameter dan ketebalan daging serta kulitnya ideal untuk angklung sehingga suara yang dihasilkan lebih merdu. Untuk memenuhi kebutuhannya, Saung Angklung Udjo menggunakan bambu-bambu dari daerah Palabuhanratu, Majalengka, dan Tasikmalaya. Di sekitar Saung Angklung Udjo banyak ditemui tanaman bambu. Setidaknya terdapat 12 jenis bambu yang tumbuh di sana, di antaranya awi hideung, awi rambat, dan awi tutul. Selain sebagai peneduh dan hiasan, bambu juga mempunyai kemampuan meredam suara. "Pertunjukan angklung setiap hari, suaranya pasti keras. Tanaman bambu di sekitar sini yang menjadi peredamnya sehingga suaranya tidak sampai ke luar," katanya. Lain lagi dengan yang dilakukan oleh Mohamad Zaini Alif dari Komunitas Hong yang mengembangkan mainan tradisional Sunda, di mana 80% di antaranya terbuat dari bambu. Jajangkungan dan gatrik adalah dua di antaranya. Mainan tradisional yang berasal dari bambu tidak kalah dengan mainan modern saat ini. Justru mainan tradisional memiliki nilai filosofi yang bisa dipelajari sejak usia dini. Permainan jajangkungan misalnya, membuat pemainnya bisa berdiri lebih tinggi. Hal ini bermakna setiap orang yang berkedudukan tinggi harus berhati-hati dan waspada agar tidak cepat jatuh. Setiap orang harus menjaga dirinya dari perbuatan tercela. "Saat orang memainkan permainan dari bambu, maka ia akan mulai mengetahui dan mengenali akar budayanya," ujar Zaini. Jika ingin mengetahui manfaat bambu lebih lengkap, berkunjunglah ke Galeri 16 milik Anang Sumarna di Jln. Cibeureum Kota Bandung. Tidak ada perabotan yang luput dari bambu. Furnitur, aksesori seperti kalung, gelang, tas hingga gamelan bambu terpajang di galerinya. Bahkan, lulusan seni rupa ITB itu memiliki sepeda yang terbuat dari kayu. Hanya ban dan rantai saja yang tidak terbuat dari bambu. Anang memang sangat peduli terhadap bambu. Melalui bambu ia berhasil mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Tidak salah jika kemudian ia dijuluki sebagai "manusia awi". Ia bahkan menanam bambu di dalam rumahnya yang terdiri atas 4 lantai itu. "Setiap ada program penanaman pohon di seluruh Indonesia, rasanya tidak terdengar ada penanaman bambu," kata Anang. ** Konservasi bambu memang belum dilaksanakan secara khusus. Tanaman bambu sering kali luput disertakan dalam berbagai gerakan penghijauan yang sekarang sedang digalakkan. "Mungkin karena masih merasa mudah menemukan bambu," ujar Zaini. Ia sendiri sampai sekarang masih belum pernah merasakan kesulitan mendapatkan bambu. Kampung Bolang, Desa Cibulu, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, daerah asalnya, menjadi sumber bambu yang memenuhi kebutuhannya selama ini. "Kalaupun ada kendala karena sekarang bambu banyak yang sudah dipotong-potong. Bambu yang ada panjangnya hanya 8 meter, padahal saya butuhnya lebih dari itu," katanya. Kesulitan mendapatkan bambu dialami oleh Taufik Udjo. Penebangan bambu yang biasa dilakukan pada musim kemarau menjadi terganggu akibat perubahan musim yang tidak dapat diprediksi. "Sekarang perhitungan waktunya harus lebih matang. Stok juga harus lebih banyak," katanya. Menebang bambu tidak sekadar memotong batangnya lalu langsung bisa dimanfaatkan. Dibutuhkan waktu sedikitnya enam bulan sebelum bambu berubah menjadi angklung. Penebangan bambu pun mengandung ritus yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur. Ritus itulah yang saat ini tidak lagi dilaksanakan. "Cara memotongnya sudah berbeda dengan pemikiran leluhur. Sekarang menebang bambu tanpa perhitungan. Banyak yang sekadar menebang karena butuh cepat, itu yang salah," tutur Zaini. Konservasi bambu tidak hanya menjaga agar tanaman ini tetap tumbuh dan berkembang. Tetapi juga memperlakukannya dengan baik sebagaimana yang telah diajarkan leluhur. Taufik berharap, Saung Angklung Udjo bisa menjadi salah satu tempat untuk mengonservasi bambu. "Kami akan mendatangkan ahli yang bisa mengidentifikasi jenis-jenis bambu yang tumbuh di sini. Ini bisa menjadi usaha pembelajaran bagi masyarakat juga," katanya. Pemanfaatan bambu yang dicontohkan Taufik, Zaini, dan Anang diharapkan bisa mendorong masyarakat untuk memberi nilai tambah pada bambu. Tidak hanya menjadikannya sebagai pagar rumah atau kerai. Bambu memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Pemanfataannya tentu harus dibarengi dengan berbagai usaha perlindungan. Mengonservasi bambu tidak semata-mata menyelamatkan tanaman, tetapi juga tradisi. (Catur Ratna Wulandari)*** Keterangan Foto: PEMBUATAN angklung dengan bahan "awi hideung" di Saung Angklung Udjo Jln. Padasuka Bandung, beberapa waktu lalu. Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, Saung Angklung Udjo menggunakan bambu-bambu dari daerah Palabuhanratu, Majalengka, dan Tasikmalaya.* DUDI SUGANDI/"PR" Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|