|
Dalam konteks mengangkat musik rakyat untuk dinikmati dunia inilah, Daeng Soetigna, sebagaimana digambarkan Prof. Drs. A.D. Pirous, berhasil mengkreasi angklung menjadi alat musik yang "baru" di tatar Sunda. "Baru" dalam konteks ini adalah menjadi lain bunyinya, sedangkan wujudnya sama. Tak ada yang berubah, kecuali tangga nadanya.
ADA dua tokoh penting dalam sejarah dan perkembangan seni angklung modern di Jawa Barat, yakni Daeng Soetigna dan Udjo Ngalagena. Daeng mengembangkan kreasinya dengan berbasis pada tangga nada do-re-mi-fa-so-la-si-do yang berasal dari Barat. Sementara Udjo bermain pada tangga nada da-mi-na-ti-la-da, yang secara keilmuan baru dirumuskan almarhum Machyar pada awal abad ke-20.
Dua tokoh budaya itu memang tercatat dalam sejarah seni musik, khususnya yang berbasis bambu. Mereka pulalah yang mengharumkan negeri ini ke mancanegara. Namun, sosok Daeng Soetigna-lah yang telah berhasil "membumikan" idiomatik musik Barat di Timur lewat waditra angklung yang hasil dikreasinya kemudian dikenal dengan angklung padaeng. Dalam jurnal Rekacipta Volume 2 No. 1 Tahun 2006, Hari Nugraha, Yasraf Amir Piliang, dan Duddy W. mencatat bahwa awal keberadaan angklung tidak terlepas dari keberadaan seni karawitan di dalam masyarakat Sunda. Hipotesis awal dapat dipastikan bahwa angklung telah ada sebelum kerajaan Sunda berdiri, sekitar tahun 952 Saka atau 1.030 Masehi, berdasarkan pada prasasti yang ditemukan di Cibadak, Kab. Sukabumi. Saat itu, angklung hanya digunakan untuk ritus, terutama upacara jelang musim tanam padi. Dalam perkembangan selanjutnya, melalui berbagai eksperimen, Daeng berhasil membuat angklung baru dengan tangga nada milik orang barat. Muncullah angklung padaeng yang kemudian disebut sebagai angklung modern. Lebih lanjut, Hari Nugraha dkk. menyebutkan, untuk mencapai standar nada diatonik-kromatik (12 nada), angklung Daeng Soetigna tidak berpatokan pada jumah angklung yang digunakan pada angklung buhun dan subetnik. Perubahan susunan angklung padaeng dengan tujuan pendidikan itu dikelompokkan menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya terdiri atas 11-13 angklung. Instrumen bambu itu disusun dari yang berukuran besar dengan suara nada rendah sampai angklung berukuran kecil dengan suara nada tinggi. ** Bahkan, angklung yang dipakai untuk upacara adat pun bukanlah angklung yang bertangga nada da-mi-na-ti-la-da, melainkan hanya beberapa tangga nada yang dibunyikan secara monoton. "Jadi, kesan magis dan mistisnya terasa," kata musikolog dari Barat, Jaap Kunst. Dalam konteks mengangkat musik rakyat untuk dinikmati dunia inilah, Daeng Soetigna, sebagaimana digambarkan oleh Prof. Drs. A.D. Pirous, berhasil mengkreasi angklung menjadi alat musik yang "baru" di tatar Sunda. "Baru" dalam konteks ini adalah menjadi lain bunyinya, sedangkan wujudnya sama. Tak ada yang berubah, kecuali tangga nadanya. Ketertarikan Daeng terhadap angklung sebagaimana dikatakan Erna Ganarsih, salah seorang anak Daeng Soetigna, berawal dari dua orang pengemis yang memainkan angklung di hadapannya. Ketika itu, Daeng jatuh cinta terhadap alat musik tersebut. Lalu, Daeng berpikir keras untuk membuat angklung yang lain, yang bisa dipakai sebagai alat pendidikan seni musik. "Setelah membeli angklung dari pengemis, Pak Daeng berpikir keras untuk membuat angklung. Ia lalu mendatangi seorang tua yang mahir bikin angklung untuk belajar membuat angklung. Pak Djadja namanya. Pak Djaja bilang apakah dengan belajar membuat angklung, Pak Daeng akan alih profesi jadi pengemis?" kata Erna Ganarsih yang dipersunting A.D. Pirous. Daeng pun memakai angklung hasil ciptaannya itu di kalangan anak-anak didiknya, yakni di kepanduan. "Saat itu, Pak Daeng diprotes banyak orang juga karena mengajarkan seni angklung dianggap mengajar jadi pengemis!" ujar Erna. Pada malam perjamuan itu, acara hiburan yang digelar adalah pertunjukan musik angklung karya Daeng Soetigna dan anak didiknya. Pertunjukan itu sukses. Lagu-lagu Barat ternyata bisa dimainkan melalui instrumen angklung diatonik-kromatis. Persoalannya kini, seberapa bangga orang Sunda terhadap seni angklung? Setelah diklaim oleh Malaysia bahwa seni angklung adalah produk negeri jiran itu, bagaimana sikap kita, urang Sunda, mempertahankan dan mengembangkannya? Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |