|
 |
| |
| Sunday, 05 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 196 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1717 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 0 minggu ini |  | 137 bulan ini |  | Terbaru: abudsingkong | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1719
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
JANGAN RIBUT DUNIA MENGKLAIM ANGKLUNG (DetikBandung, 19 Desember 2008) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Salomo Sihombing - detikBandung
|
|
Friday, 19 December 2008 |
|
100 Tahun Daeng Soetigna
Bandung - Pencipta angklung diatonis Daeng Soetigna memang ingin angklung menyebar ke seluruh dunia. Tidak perlu ribut jika sekarang di luar Indonesia ada yang mengklaim musik dari bambu itu sebagai musik asli negaranya. Angklung yang dikenal sekarang adalah angklung diatonis kromatis, pengembangan yang dilakukan oleh Daeng Soetigna dari angklung pentatonis. Akibat penemuan tersebut, angklung memungkinkan dimainkan untuk lagu-lagu pop.
"Itulah kuncinya. Jika Pak Daeng tidak membuka kunci-kunci itu, belum tentu angklung dikenal seperti sekarang," tutur AD Pirous, menantu Daeng Soetigna dari putrinya Erna Garnasih Pirous, saat bincang-bincang dengan detikbandung.
Kalau sekarang angklung menjadi mudah ditemukan di banyak negara, menurut Pirous adalah hal wajar. "Ini tidak perlu kita ributkan. Sejak awal, Pak Daeng bercita-cita angklung bisa menyebar ke seluruh dunia," tegasnya.
Banyak faktor yang kemudian memungkinkan angklung sampai ke negara lain, terutama tetangga Indonesia. Bisa jadi karena sengaja diajarkan oleh orang Indonesia, atau menjadi kebudayaan di luar karena komunitas orang Indonesia di negara tetangga.
"Setelah mengenal angklung, kemudian dengan logika sebagai sesama Melayu mereka mengklaim angklung. Sementara kalau bicara politik, kita bicara letak geofrafis dan batas wilayah. Itulah cerdiknya mereka. Ditambah kita yang dari dulu memang tidak serius mengembangkan angklung," tutur Pirous.
Dari aspek Hak atas Kekayaan Intelektual, asal usul angklung khususnya penemuan angklung diatonis-kromatis oleh Daeng Soetigna masih terus diperjuangkan. Namun Pirous mengingatkan ada hal lebih penting yang bisa dilakukan.
"Kalau kita mau mempertahankan angklung, mari kita kembangkan. Apa pun yang bisa mengangkat kembali angklung, itu yang kita lakukan. Tidak perlu semuanya ribut-ribut," lanjut Pirous.
(lom/lom)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|