MALAM PENTAS BUDAYA INDONESIA PUKAU MASYARAKAT DRESDEN, JERMAN (Kabarindonesia.com,2 September 2008)
Kontributor: Stephanus Mulyadi
Tuesday, 02 September 2008
Oleh : Stephanus Mulyadi
KabarIndonesia - Malam Pentas Budaya Indonesia (indonesischer Kulturabend) yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Indonesia di Dresden (Formid), Sabtu, 30/08/2008 lalu memukau sekitar 400 tamu undangan, warga masyarakat Dresden, Jerman.
Hal itu terlihat dari aplaus panjang yang mereka berikan dan begitu besarnya kekaguman serta rasa ingin tahu mereka terhadap berbagai alat musik tradisional, lagu, tarian dan makanan khas Indonesia yang ditampilkan malam itu. Bahkan setelah acara selesai tamu seakan tak ingin meninggalkan ruangan karena masih tertarik untuk mengetahui dan bahkan mencoba berbagai alat musik tradisional, khususnya angklung.
Malam Pentas Budaya Indonesia ke II (yang pertama diadakan pada tahun 2005) di Dresden diadakan di Plenarsaal Rathaus, Dr.Külz-Ring, 19 Dresden, sebuah gedung bergengsi milik pemerintah Dresden, terletak di jantung kota Dresden.
Kegiatan yang terlaksana berkat kerjasama Formid dengan Pemerintah Pusat Dresden, Akademischer Auslandamt (AAA) Technische Universitaet Dresden dan Kedutaan RI di Berlin merupakan sebuah event terbesar FORMID tahun ini. Tujuan utama dari Malam Pentas Budaya Indonesia adalah untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Eropa, khususnya Jerman serta mendukung program pemerintah RI “Visit Indonesien Year 2008”.
Seluruh penampilan seni merebut hati penonton Acara yang berlangsung selama 3 jam penuh tersebut dibuka dengan Tari Pendet dan tari Panji Semirang. Setelah berbagai sambutan dari Ketua Formid, KBRI dan Pemerintah Dresden, pentas seni dilanjutkan dengan menampilkan Tari Saman dari Aceh dan permainan Kecapi dan Sinden dari Jawa Barat. Kemudian Indonesia diperkenalkan secara singkat melalui presentasi powerpoint yang dimeriahkan dengan peragaan busana tradisional Indonesia dan dilanjutkan dengan tari piring dari Padang.
Lagu „Tanah Airku Takkan Ku Lupakan” karya Ibu Sud yang dilantunkan dengan manis oleh penyanyi cilik berbakat, Aina, sempat membuat hati warga Indonesia yang hadir malam itu bergetar haru. Grup nyanyi menampilkan lagu-lagu daerah seperti Jali-Jali dan Rek Ayo Rek. Kemudian Diyah Ayu Wulandari, dara manis asal Surabaya yang tampil solo menyanyikan lagu Dangdut berjudul Terajana karya Rhoma Irama menutup pagelaran lagu-lagu Indonesia. Irama lincah Dangdut yang dibawakan Diyah mampu membuat penonton ikut bergoyang.
Setelah menikmati aneka hidangan khas Indonesia di waktu istiharat, penonton kembali disuguhkan dengan berbagai atraksi memukau. Muhammad Ali Imron menampilkan pencak silat yang dilanjutkan dengan tari Batak asuhan sdri. Kezia.
Sebagai sajian pamungkas ditampilkan gerak lincah penari Poco-Poco asuhan Romo Johanes yang dilanjutkan dengan “kursus singkat” Tari Poco-Poco bagi hadirin. Ikut sertanya hadirin dalam menarikan Poco-Poco ini memahat kenangan indah tersendiri bagi hadirin, sebuah kenangan indah yang membuat mereka menati-nanti penampilan Indonesia di masa-masa mendatang.
Kesan-kesan penonton Selain penampilan apik Tari Saman asuhan Pak Imron yang pada bulan Mei 2008 lalu meraih medali emas dalam lomba tari internasional di Dresden, penampilan Angklung dan Wayang kulit berhasil menghipnotis penonton. Tampil pertama dengan lagu Ole-Ole Bandung grup Angkulung asuhan ibu Dina langsung menarik hati penonton. Ketika lagu Vogelhochzeit (lagu anak-anak Jerman) dimainkan, spontan penonton ikut bernyanyi. Penampilan Angklung ditutup dengan sempurna dengan lagu „We are the Champion“ yang mendapat aplaus panjang dari penonton.
"Saya hampir tidak bisa percaya, alat musik sederhana dari bambu ini bisa menghasilkan harmoni yang bagitu indah dan bisa dipakai untuk konsert,“ komentar Gregor Domes, pianis dan salah satu anggota Bigband yang tersohor di Dresden, yang juga hadir pada malam itu.
“Dan yang juga sangat mengagumkan, kalian bisa memainkannya di luar kepala. Sungguh luar biasa,“ puji Gregor. Beberapa anak-anak Dresden yang hadir malam itu bahkan langsung ingin mendaftar untuk ikut kursus Angklung.
Sedangkan Anja Steinbach dan Martin terkagum-kagum dengan Wayang Kulit yang dimainkan dalang berbakat Wisnu Wibowo dengan lakon "Harjuna Tanding Buto Cakil“.
"Meskipun saya tidak mengerti ceritanya, tapi saya sangat menikmati permainan Wayang Kulit tadi,“ ungkap keduanya. "Saya akan ke Indonesia untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Kulit di sana,“ tambah Martin.
Sukses besar Malam Pentas Budaya Indonesia tahun ini dinilai oleh tamu undangan dan warga Formid meraih sukses besar. Meskipun dalam keadaan yang serba terbatas, seperti waktu latihan dan jumlah personal yang sedikit, namun seluruh program berhasil ditampilkan dengan prima dan berhasil memukau penonton. Sukses ini merupakan buah dari perjuangan keras dan kerjasama warga Formid selama proses latihan sampai pada malam pementasan.
Sukses besar ini merupakan wujud dari “Rasa bangga sebagai orang Indonesia,” demikian diungkapkan Bpk. Dr. Ing. Ediansyah Zulkifli, sekaligus merupakan hadiah buat HUT RI yang ke-63 dari warga Formid yang sedang berjuang baik menuntut ilmu maupun bekerja di luar negeri.
“Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas kontribusi teman semua. Tanpa kerjasama yang erat dan tanpa pamrih, saya rasa acara tersebut tidak akan sukses. Kita semua harus merasa bangga atas hasil kerja keras yg membuahkan kesuksesan,” demikian diungkapkan ibu Tri Sulaiman, salah satu sesepuh Formid yang telah memberikan kontrobusi besar baik secara materi maupun dorongan semangat dari awal perencanaan, proses latihan hingga akhir acara.
Malam Pentas Budaya Indonesia sudah menjadi agenda tetap Formid sebagai bentuk partisipasi dalam mempromosikan Indonesia kepada dunia, khususnya Eropa. Selain Malam Pentas Budaya Indonesia, Fromid juga berpartisipasi dalam kegiatan Strassen Fest yang diselenggarakan oleh pemerintah Dresden yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 September 2008, serta berbagai event internasional lainnya.