|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 47 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1720 terdaftar |
 | 1 hari ini |  | 3 minggu ini |  | 140 bulan ini |  | Terbaru: kocek | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1722
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG DITARGETKAN JADI "MASTERPIECE" DUNIA (Kompas, 20 Agutus 2007) |
|
|
|
Kontributor: Yanti
|
|
Monday, 20 August 2007 |
|
Bandung, Kompas - Pemerintah berencana menjadikan alat musik bambu, angklung, menjadi karya agung dunia.
Untuk itu, pada tanggal 18-19 Agustus diselenggarakan Bambu Nusantara, Festival Musik Dunia di Jakarta International Expo. Dalam festival tersebut sejumlah alat musik bambu dari berbagai provinsi dimainkan. Menurut Wawan Juanda, Creative Director Bambu Nusantara, festival ini untuk memperkenalkan kembali khazanah musik bambu di Nusantara. Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwanda mengatakan, anggaran untuk kebudayaan dan pariwisata Indonesia tahun ini Rp 970 miliar. Sekitar Rp 291 miliar untuk gaji pegawai, dan sisanya Rp 679 miliar untuk berbagai kegiatan. Dana untuk menyelamatkan angklung 1,3 persen dari anggaran di luar gaji pegawai atau sebesar Rp 9 miliar. Dana itu digunakan untuk mempromosikan bahwa angklung merupakan karya budaya Indonesia, yaitu melalui berbagai pertunjukan, antara lain pertunjukan tingkat nasional pada 18-19 Agustus di Jakarta dan pertunjukan internasional pada bulan Oktober. Sekitar 200 pemain angklung bermain di hadapan 184 pejabat dari berbagai negara di kantor pusat UNESCO di Paris. "Presiden akan berpidato. Salah satunya menerangkan mengenai angklung sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia," kata Sapta. Tahun 2006 keris dijadikan karya agung (masterpiece) dunia. Wayang diakui sebagai karya agung dunia dari Indonesia tahun 2005. Kini pemerintah menyiapkan bukti bahwa angklung dan batik adalah kekayaan budaya Indonesia, yang pantas menjadi karya agung dunia. Khusus untuk angklung, Sapta mengatakan, Indonesia memiliki banyak bukti sejarah yang bisa memperkuat anglung sebagai alat musik khas Indonesia. Salah satu bukti tersebut adalah diciptakannya nada diatonis oleh Daeng Sutigna pada tahun 1930-an. Sebelumnya angklung bernada pentatonis. (ynt) Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|