|
 |
| |
| Sunday, 05 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 164 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1717 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 0 minggu ini |  | 137 bulan ini |  | Terbaru: abudsingkong | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1719
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG DAN 726 BAHASA DAERAH LENYAP (Kompas, 20 November 2007) |
|
|
|
Kontributor: Ifah Hanifah AWI
|
|
Tuesday, 20 November 2007 |
|
Pernahkah Anda sadar atau memikirkan budaya kita perlahan-lahan mulai tercerabut, bahkan mulai lenyap dari bumi pertiwi ini? Tampaknya hal itu sedang terjadi. Sebanyak 726 bahasa daerah terancam punah. Adapun angklung yang diklaim sebagai musik Kerajaan Malaysia dengan label music bamboo malay (konon) sedang diupayakan untuk mendapat pengakuan UNESCO (Kompas, 14/11/2007).
Kalau tidak ada aral melintang, kita tidak lagi kaya akan budaya. Pasalnya, beberapa "harta karun" seperti bahasa daerah dan musik tradisional/daerah kita mulai enggan berada di bangsa ini karena penggunanya malu dan tidak menghargai. Yang melenyapkan bahasa daerah tidak lain adalah kita sendiri. Saya pernah bercakap dengan teman saya. Ia adalah orang Sunda, tetapi selalu berbahasa Betawi dengan logat Sunda, seperti menggunakan kata gue. Padahal, kita berada di Bandung. Seharusnya pendatang yang menyesuaikan berbahasa. Saya melihat bahwa paradigma berkomunikasi kita salah dan menyebabkan akulturasi bahasa kita tidak sehat. Wacana pelestarian bahasa daerah tampaknya sudah banyak diulas. Namun, peraturan daerah mengenai bahasa daerah belum sepenuhnya diterapkan. Ada baiknya Pemerintah Provinsi Jawa Barat mewajibkan setiap institusi (negeri/swasta), saat merekrut pegawai, dalam standar penilaiannya mencantumkan syarat mampu menguasai logat bahasa Sunda, syukur-syukur mampu berbahasa Sunda dengan fasih. Itu merupakan salah satu contoh yang berbentuk aturan. Untuk yang berupa etika, kita mesti menyerahkannya kepada masing-masing individu agar menjaga dan melestarikan bahasa daerahnya. Azis Husaini Mahasiswa Jurnalistik Unpad (Surat Pembaca Kompas) Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|