Daripada membayangkan harus mengimpor angklung atau marah-marah tak tentu arah, tentu yang lebih dibutuhkan adalah keseriusan menjaga salah satu aset kebudayaan kita yang tak ternilai itu. Kini pemerintah boleh jadi tengah berupaya seputar pelegalan. Akan tetapi, kiprah orang-orang biasa yang turut menjaga kelestarian kesenian lokal tentunya tak boleh diremehkan.
Maulana M. Syuhada bisa dibilang salah seorang "duta bangsa" yang ikut mempromosikan angklung ke pentas dunia. Maulana menulis buku 40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukkan Daratan Eropa, yang baru saja diluncurkan beberapa waktu lalu. Buku ini mengisahkan perjalanan Expand the Sound of Angklung (ESA) dari Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA 3) yang dipimpinnya dalam melakukan muhibah budaya keenam negara Eropa pada musim panas tahun 2004. Sebuah catatan perjalanan yang impresif dan detail tentang memori tiga tahun lalu dengan bumbu kelucuan segar di sana-sini.
Dalam pengantar bukunya, sarjana Teknik Industri ITB ini menuturkan bahwa ide membukukan perjalanan ESA sudah muncul sejak petualangan 40 hari tersebut berakhir. Baginya, kisah itu terlalu indah untuk tidak dibukukan. Kampus berbincang dengan kandidat doktor Lancaster University, Inggris, ini seputar petualangan berkesannya, Sabtu (22/9) di rumahnya di bilangan Cigadung Kota Bandung.
**
SELEPAS lulus tahun 2001 dari ITB, lelaki kelahiran tahun 1977 ini terbang ke Jerman untuk meneruskan pendidikan masternya di bidang Manajemen Produksi di Technische Universitaet Hamburg. Kemudian, ia lanjutkan lagi dengan pergi ke Inggris tahun 2005 untuk mengambil pendidikan doktor di bidang Management Science di Lancaster University Management School. Selain hobi sekolah, Maulana ternyata juga punya hobi pada seni dan budaya negerinya. Hobi itu semakin bergelora lantaran berada di negeri orang. Tahun 2002, Maulana mendirikan Angklung-Orchester Hamburg, grup angklung kampus yang kemudian berhasil menjaring mahasiswa asing dari sekitar sepuluh negara berbeda.
Tidak berhenti sampai di situ, setahun kemudian ia bersama tiga rekan mahasiswa lainnya membentuk Sabilulungan, sebuah grup kesenian Sunda amatir dengan spesialisasi pada kecapi suling dan rampak kendang. Maulana juga personel grup gamelan Margi Budoyo Hamburg. Bersama grup-grup itu, ia sering melakukan pentas secara reguler. Saat menetap di Inggris sampai sekarang tak menghentikan kegiatan keseniannya. Kini, ia melatih angklung secara sukarela di sebuah high school di Lancaster. "Angklung adalah kesenangan batin dan aktualisasi diri saya. Akan tetapi, paralel dengan itu, ternyata ada pula sumbangan positif buat negeri ini walaupun kecil, minimal pencitraan tentang Indonesia cukup bagus," ucap Maulana.
Di antara seluruh kegiatan seni budayanya, ada pengalaman terbesar yang tidak akan dilupakan Maulana, yaitu ketika memimpin KPA 3 menggelar ESA. Semua berawal ketika grup angklung itu berencana menggelar muhibah budaya ke Eropa. Maulana yang mantan ketua OSIS SMA 3 dan aktif di ikatan alumni dan tinggal di Jerman, kala itu dipercaya membantu memimpin rombongan. Sementara itu, rekan-rekan di Bandung berlatih dan giat mencari sponsor, Maulana bolak-balik ke berbagai tempat untuk mencari festival atau konser, melobi institusi kebudayaan, dan menandatangani kontrak. Persiapan selama sekitar setahun itu pun menghasilkan negara tujuan lebih banyak dibanding ESA KPA 3 sebelumnya, yaitu penampilan di 9 kota utama (Frankfurt, Bremen, Hamburg, Brussels, Paris, Aberdeen, Berlin, Zakopane, Muenchen) di 6 negara berbeda (Jerman, Prancis, Belgia, Skotlandia, Polandia, dan Cekoslovakia).
Malang tak dapat ditolak. Seminggu sebelum keberangkatan, tiba-tiba pihak sponsor yang membiayai sekitar 70% total kebutuhan menarik diri. Bisa dibayangkan ketika semua kerja keras dan berbagai kontrak yang sudah disepakati tiba-tiba Maulana mendapat telefon dari Bandung, yang mengabari kekurangan dana yang sama sekali tidak sedikit, sekitar Rp 300 juta!
Setelah kalangkabut "cari utang bayar belakangan", tim dari Bandung berhasil menutupi kekurangan dana menjadi "hanya" Rp 160 juta. Yang kemudian terpikir masih memungkinkan untuk menutupi segala kekurangan dana untuk membayar bus, penginapan, dsb., selama di Eropa adalah berjualan suvenir. Tim dari Bandung berjumlah 35 orang pun berangkat tak lupa membawa 1.000 buah compact disc (CD), bendo, wayang, angklung kecil, pin, batik, dsb., untuk dijual selama mampir di berbagai festival.
Sesaat setelah tim KPA 3 mendarat di Eropa, Maulana terang-terangan berkata, bahwa ide berjualan suvenir adalah mustahil. Rencana manis yang tidak realistis itu sengaja Maulana gembar-gemborkan selagi KPA 3 masih di Indonesia sebab bagaimanapun ESA 2 harus tetap jalan. Betul saja, ketika tampil di Bremen misalnya, target menjual CD sebanyak 100 buah, hanya terpenuhi 12 buah.
Meski deg-degan karena tipisnya dana, KPA 3 tetap tampil all out di berbagai festival. Di mana pun mereka tampil selalu disambut dengan antusiasme meluap. Salah satu pengalaman paling mendebarkan dan mengesankan adalah saat di Aberdeen. Setelah penampilan di Verte-le-Petit, Paris, grup meluncur ke Aberdeen, Skotlandia, dengan gemetaran. Pasalnya, uang mereka hanya cukup untuk sampai di sana, sedangkan biaya ke lokasi 3 festival berikutnya serta biaya kepulangan sudah pasti akan habis. Pada titik ekstrem, pilihan mereka berujung pada menggelandang di Eropa atau berenang melewati selat Inggris!
Itulah inti konflik dalam buku Maulana. Ternyata, mereka menjadi idola dalam Aberdeen International Youth Festival itu. Request lagu tambahan, encore hingga standing ovation, tak putus-putus hadir. "It was absolutely lovely to hear such an unusual instrument making a very beautiful note. And the way you played your anthem with so much pride was beautiful," ujar salah satu penonton Skotlandia, sebagaimana ditirukan Maulana, seusai mereka mengumandangkan lagu "Indonesia Raya" dengan hikmatnya iringan angklung.
Kebahagiaan menjadi grup paling disukai itu diiringi pula dengan kabar bahagia lainnya. Setelah Maulana mengungkapkan kesulitan keuangan yang dialami, presiden festival Aberdeen memberi keringanan penangguhan pembayaran biaya festival (Aberdeen satu-satunya festival yang membayar-red.). "Kita langsung bersorak! Alhamdulillah tidak jadi berenang," ucapnya ditimpali tawa.
Selepas Aberdeen, di tiga negara berikutnya mereka tetap tampil memukau. Malah di festival di Zakopane, Polandia, KPA 3 kembali membawa penonton pada tepuk tangan panjang bergemuruh sekaligus membuahkan Ciupaga, penghargaan tertinggi festival Zakopane. Kepulangan ke Indonesia akhirnya diiringi senyum sebab akhir perjalanan itu terkumpul 9 ribu euro yang cukup untuk menutupi utang pada dewan sekolah. Sementara itu, utang 8 ribu poundsterling atau setara Rp 140 juta sisa festival Aberdeen, belakangan ternyata dibebaskan. Dari perjalanan penuh suka-duka itu, Maulana dan seluruh anggota tim percaya bahwa dengan kerja keras dan pertolongan-Nya, segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. "Alhamdulillah happy ending. Awalnya defisit, tetapi akhirnya kita malah surplus uang kas Rp 8 juta. Akan tetapi yang paling penting adalah surplus dari segi pengalaman," ucap Maulana seraya tersenyum.
Sebagai grup yang mempromosikan kesenian lokal ke tingkat dunia, bagaimana pendapat Anda tentang dukungan pemerintah?
Kita memang hobi sama angklung dan kalau ada apresiasi dari masyarakat dunia tentunya membahagiakan. Makanya, kita hanya kurang uang Rp 300 juta, mungkin tidak begitu berarti buat pemerintah, tetapi selama 40 hari nama Indonesia bisa berkibar. Kalau kita hanya nunggu uang datang, mungkin nggak akan jadi. Kalau dipikir-pikir, Indonesia itu mau pencitraan dari sisi mana lagi? Lewat hukum, politik, ekonomi, kacau semua, tapi kalau budaya masih bisa membanggakan. Kebudayaan, dalam hal ini angklung, bisa jadi alat diplomasi yang efektif. Selain pemerintah, perusahaan juga harusnya support karena bagaimanapun butuh dana sponsor.
Komentar Anda tentang angklung yang katanya mau diklaim negara tetangga?
Tentang Malaysia itu, ya sekarang kita menanggapinya dengan arif saja. Ini sebenarnya peringatan kesekian sekali tentang betapa kita kurang menghargai hal seperti itu. Batik sudah oleh Malaysia, tahu tempe oleh Jepang, dsb., tapi kita nggak belajar. Sewaktu di Aberdeen, kita sempat bikin workshop. Lalu ada orang Skotlandia datang, dia kaget karena orang Indonesia yang main. Katanya, mereka pernah ke Malaysia, lalu orang Malaysia bilang itu local instrument di sana. Namun ternyata angklung itu dari bambu kuning. Bambu kuning mah bukan untuk angklung atuh, itu mah mungkin untuk bambu runcing zaman perjuangan. Kalau dari segi kualitas, harusnya bambu hitam di tanah Jawa. Misalnya Badui, itu sudah sejak dulu pakai angklung. Orang kayak saya mah nggak punya power, maka sekarang pemerintahlah yang jadi kunci dengan political will-nya agar serius dan sadar betapa berharganya angklung. ***
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.