|
Sherina memang fenomena baru dalam blantika dunia hiburan anak. Di
saat dunia anak-anak kesulitan mencari sosok idola baru yang sebaya dan
dekat dengan keseharian, Sherina hadir menyeruak dan langsung menduduki
posisi puncak. Penampilan penyanyi berambut sebahu di Sabuga ITB
Bandung Minggu (6/8) lalu membuktikan hal tersebut. Melihat
antusiasme penonton cilik yang datang di Konser Angklung Mang Udjo dan
Sherina itu, kita langsung bisa tahu bagaimana sang penyanyi cilik
bersuara emas itu mendapat posisi khusus di kalangan penggemarnya.
Karcis pertunjukan yang dibagi dalam tiga kelas (Rp 55.000, Rp 30.000
dan Rp 20.000) terjual habis sehari sebelum pertunjukan dimulai.
Akibatnya, banyak calon penonton yang harus gigit jari karena tidak
mendapatkan karcis.
Melihat
antusiasme penonton cilik yang datang di Konser Angklung Mang Udjo dan
Sherina itu, kita langsung bisa tahu bagaimana sang penyanyi cilik
bersuara emas itu mendapat posisi khusus di kalangan penggemarnya.
Karcis pertunjukan yang dibagi dalam tiga kelas (Rp 55.000, Rp 30.000
dan Rp 20.000) terjual habis sehari sebelum pertunjukan dimulai.
Akibatnya, banyak calon penonton yang harus gigit jari karena tidak
mendapatkan karcis.
Jika mereka punya uang lebih, demi melihat penampilan Sherina,
mereka rela membeli karcis pertunjukan itu di para calo yang
bergentayangan mengincar 'mangsanya'. Harga yang dijual calo-calo
itupun tidak tanggung-tanggung, tiga kali lipat hingga lima kali lipat.
Untuk karcis Melati yang aslinya Rp 20 ribu per lembar, para calo
memasang tarif Rp 125 ribu per lembar.
Para penonton cilik itu
banyak yang menangis di depan gedung pertunjukan ketika tahu bahwa
mereka tidak kebagian karcis dan tidak boleh masuk. Seperti Tari, yang
datang berombongan dengan orang tua dan para sepupunya. Karena mengira
masih ada karcis yang dijual panitia pada hari H, maka rombongan inipun
optimis langsung meluncur ke tempat pertunjukan. Dan benar,
seperti banyak calon penonton lainnya, mereka tidak mendapatkan karcis.
Tari pun merengek tak henti kepada ibunya. Gadis cilik yang baru duduk
di taman kanak-kanak ini tidak mau tahu kalau karcis sudah habis dan
terus memaksa orang tuanya agar bisa masuk. Tinggallah sang ibu yang
kebingungan. Ketika dengan susah payah ibunya bisa mendapatkan
selembar karcis, Taripun tersenyum, melupakan para sepupunya yang gigit
jari. Ada juga seorang anak yang merelakan uang tabungannya melayang
demi membelikan saudaranya karcis di calo, sehingga mereka bisa nonton
bersama. Anak-anak yang rata-rata berusia balita hingga 15
tahun ini menyatakan senang menyaksikan konser musik angkung dan
Sherina ini. ''Bagus sih, soalnya yang selama ini kita lihat kan
lagu-lagu yang ada di teve itu kan temanya percintaan melulu,'' tukas
Tyas yang ditemui Republika sesuai pertunjukan selama 1,5 jam itu. Soal
angklungnya sendiri, Tyas juga mengatakan hal tersebut sebagai sesuatu
yang bagus. Pasalnya, kata murid kelas 3 SMP Salman Bandung ini, selama
ini orang mengenal Sherina kalau konser dengan orkestra lengkap.
''Kalau dengan angkung kan, orang belum tahu,'' kata gadis cantik
berkerudung ini. Konser Angklung dan Sherina memang sesuatu
yang baru. Dan itu bukan sesuatu yang buruk, bahkan sangat bagus.
Ternyata, paduan keduanya bisa menjadi suatu harmoni yang indah untuk
dinikmati. Keuntungan yang diperoleh para penonton pun menjadi
berlipat. Menyaksikan dan mendengarkan suara merdu Sherina sekaligus
mengenal jenis musik daerah Sunda. Di sela-sela, konser ini
juga mengajak anak-anak yang menjadi penonton untuk naik ke panggung
dan ikut main angklung. Diajari langsung oleh Mang Udjo. Sebagian dari
80 anak yang naik ke panggung itu belum bisa memainkan angklung.
Tetapi, dalam waktu sekitar 10 menit - di bawah bimbingan Mang Udjo -
grup jadian ini bisa memainkan dua lagu, Ibu Kita Kartini dan Burung
Kakaktua. Tentu saja, penampilan ini mendapat applaus yang meriah dari
para penonton. Kagum dan salut. Bagi para murid di daerah
Pasundan, mungkin alat musik dari bambu ini tidak asing lagi. Umumnya,
ketika anak-anak duduk di bangku TK hingga SD ada pelajaran pengenalan
ini. Tetapi bagaimana dengan di daerah lain, jangan di luar Jawa Barat.
Anak-anak di Jabar tetapi bukan masuk tataran paharyangan pun mungkin
banyak yang sudah tidak mengenali lagi alat musik ini. Maka,
konser semacam ini pun patut untuk terus dilakukan. Mungkin kelak
Sherina konser di Bali dengan iringan musik khas pulau Dewata atau di
Jawa Tengah dengan iringan gamelan. Dan bukan hanya Sherina, tetapi
para penyanyi cilik yang lain. Agar budaya bangsa yang kaya ini tidak
kalah dengan berbagai budaya luar yang belum tentu mendidik. Agar
anak-anak semakin mengenal negerinya serta mencintai tanah airnya.
Bukankah tidak sulit untuk mengajari anak cinta budaya sendiri? (aan) Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |