|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 30 guests online |
|
AWI Members |
 | 1720 registered |
 | 1 today |  | 3 this week |  | 140 this month |  | Last: kocek | |
|
AWI WebStat |
Members: 1722
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG, ALAT MUSIK TRADISIONAL YANG TETAP LESTARI (Sinar Harapan, 4 Juli 2001) |
|
|
|
Written by Budi Supardiman
|
|
Wednesday, 04 July 2001 |
Jakarta – Gerai-gerai ratusan daun bambu gemerisik gemulai tertiup
angin. Puluhan pohon bambu kokoh berdiri tegak di hutan bambu daerah
Surade, Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Siapa nyana dari tangan-tangan
piawai bambu-bambu itu terangkai menjadi alat musik yang hampir semua
orang dapat memainkannya, yaitu angklung.
Hal ini menunjukkan bahwa naluri musik ada pada tiap orang. Buktinya,
cukup dengan mengikuti aba-aba dari pemimpinnya untuk menggoyang alat
musik tradisional Jawa Barat itu secara bergantian, kelompok yang biasa
terdiri dari puluhan orang itu langsung dapat menyajikan sebuah lagu
terkenal La Paloma. Setiap angklung memang punya nada tertentu, di mana
tiap pemainnya harus waspada untuk bergantian menggoyangnya. Angklung
dapat menghasilkan berbagai melodi yang tengah populer, baik musik
dangdut maupun musik masa kini.
Tak heran apabila pengunjung atau turis mancanegara yang mengunjungi
Bandung pasti mampir di Saung Angklung Udjo. Karena, selain disuguhi
berbagai tarian khas Jabar, seperti tari topeng, mereka pun diajak
bermain angklung, bahkan ikut menari bersama anak-anak. Nuansa seperti
ini pula yang ingin dihadirkan oleh Kuswandi dan Drs. H. Rachmat Syam,
pensiunan pegawai Dinas Kebudayaan DKI. Mereka adalah generasi ketiga
setelah Udjo Ngalagena yang terkenal dengan Mang Udjo, Sanui Hidajat
dan Agam Ngadimin (ketiga almarhum). Ketiganya merupakan murid perintis
angklung dengan nada-nada pentatonis, Daeng Soetigna (alm).
Angklung dapat dinkmati siapapun. Tak hanya dipakai sebagai alat
upacara ritual, seperti panen di Badui, Bantent, atau sebagai permainan
anak-anak SD hingga SMU dapat memainkannya. Kelestariannya pun terjaga.
Uniknya, dengan bermain angklung generasi muda pun mempunyai kegiatan
di kegiatan di luar sekolah daripada mengganggu dan terlibat narkoba.
Untuk itu, Rachmat Syam dan Kuswandi yan sangat mencintai bidangnya itu
dengan sukarela hampir setiap hari datang ke pusat Kesenian Wilayah,
seperti Jakarta Utara, Selatan sampai Jakarta Timur,. Mereka melatih
remaja-remaja membuat konser angklung, membawakan puluhan lagu Barat
sampai dangdut yang telah diaransir Rachmat ke musik angklung. Dengan
serius, mereka bergantian mengguncang angklung secara horizontal dan
teratur.
Diakui, tak mudah memang melatih kawula muda yang sama sekali belum
mengenal not balok. Namun, dengan bekal kesabaran, dalam waktu tak
sampai enam bulan, mereka cukup mahir memainkan angklung dan arumba.
Bahkan mereka telah tampil mengisi berbagai acara. Semuanya tanpa
dipungut biaya. Namun kepuasan batin diperoleh Rachmat Syam dan
Kuswandi.
Ternyata kiprah kedua orang pencinta seni musii bambu itu tak cuma di
situ. Murid dari Udjo Ngalegena (alm) memiliki angan-angan musik
tradisional bambu tetap lestari. Masyarakat Jakarta pun dapat menikmati
berbagai kesenian bambu seperti milik Mang Udjo. Karena itu, tahun
1975, didirikan Sanggar Seni Hasta Gurian, artinya tangan-tangan suc.
Sanggar ini, selain membuat berbagai mebel dan souvenir dari bambu,
juga memproduksi alat musik bambu, seperti suling, calung, selain
angklung.
Kegiatan produksi yang terus berkembang dan semula masih di rumah
pendirinya, makin terasa sempit. Karena itu, sanggar pun pindah ke
daerah Petamburan, Jakarta Pusat. Maka, didirikan Sanggar Seni Hasta
Guriang yang semuanya terbuat dari bambu mulai dari tempat produksi,
ruang pameran dan latihan.
Namun, di atas lahan seluas 600 meter ini yang baru dua tahun ditempati
juga terasa tak cukup, karena makin lama makin banyak orang asing
datang dengan bus-bus pariwisata. Murid-muridnya pun terus bertambah,
baik dari dalam dan luar negeri. Sehingga, mereka pun siap pindah di
tempat yang baru seluas 2000 meter per segi di daerah Bintaro, lengkap
dengan bengkel, showroom, tempat latihan dan asrama. “Semua ini berkat
dari sponsor dan pembina yang tanpa pamrih memberikan dukungan,” tutur
Rachmat Syam di sanggarnya yang terlihat mulai dibongkar.
Optimis
Baik Kuswandi maupun Rachmat optimis alat bambu ini akan tetap lestari
sampai kapan pun. Mereka pun agaknya tidak menemui kesulitan dalam
mempromosikannya. Karena, banyak pesanan dari dalam dan luar negeri,
terutama Kedutaan Indonesia. Maklum harganya relatif murah. Satu set
lengkapnya yang terdiri dari melodi kecil, besar hingga bas, dihargai 5
juta rupiah dan dapat selesai dalam 2 minggun.
Hampir setiap tahun dua atau tiga kali mereka melanglang buana bermain
angklung. Entah itu, untuk memberbaiki suara-suara angklung buatannya
sambil mengajari bermain angklung di sana atau selalu diikutsertakan ke
dalam rombongan kesenian Indonesia yang pentas di luar negeri. Mereka
juga mengisi acara resmi kenegaraan di istana atau acara gubernur.
“Dengan angklung, kami punya cukup pengalaman batin yang tak
terlupakan,” lanjut Rachmat yang juga penulis buku-buku seni budaya ini
seirus.
Alat musik bambu ini pun ternyata merupakan identitas tersendiri dan
telah diakui di mana pun, termasuk pada International Organization Folk
Art yang disahkan PBB. Angklung pun bernyanyi di seluruh pelosok dunia.
Tampaknya ada kepuasan tersendiri menekuni bidang yang dicintai.
Karena, selain turut melestarikan tradisi bangsa, bidang ini pun
membantu mereka yang putus sekolah dan tak punya pekerjaan. Dengan
belajar Angklung, sekaligus juga diajari cara membuatnya. Sehingga
mereka menjadi tenaga-tenaga trampil yang serba bisa. Satu hal yang
masih direncanakan adalah rekaman khusus alat musik bambu dan membuat
pusat kegiatan kerajinan bambu, semacam Saung Angklung Mang Udjo, untuk
turis dalam dan luar negeri. “Semua hampir terwujud di Jonggol di atas
tanah satu hektar,” jelas ayah dari empat orang ini optimis.
(Kania Damayanti)
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|