|
 |
| |
| Wednesday, 08 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 130 guests online |
|
AWI Members |
 | 1720 registered |
 | 1 today |  | 3 this week |  | 140 this month |  | Last: kocek | |
|
AWI WebStat |
Members: 1722
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
DEGUNG (e-travelplan.com) |
|
|
|
Written by Budi Supardiman
|
|
Sunday, 01 January 2006 |
|
Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa
Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro
biasa digunakan untuk mengiringi wayang, tari, kiiningan, jaipongan dan
lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro,
hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan
jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini
menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan
gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili
kekhasan masyarakat Jawa Barat.
Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng
berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan
Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut,
Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan
renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang
sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.
Ada dua pengertian tentang istilah Degung. Pertama, nama perangkat
gamelan yang kita kenal sekarang, dan yang kedua, nama laras bagian
dari laras salendro, berdasarkan teaori R. Machyar Angga Kusumahdinata.
Degung sebagai unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain
Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwi swara
(tumbuk: (mi) 2 - (la) 5 dan degung tri swara: 1(da), 3 (na), dan 4
(ti).
Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas
masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan
pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad 18/awal
abad 19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam
bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di
Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat),
Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat),
Darmaraja (1 perangkat), banjar (1 perangkat), Singaparna (1
perangkat).
Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu
sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap
kesenian degung, terutama lagulagunya yang yang banyak diwarnai
kondisi sungai, di antaranya lagu manintin, Galatik Manggut, Kintel
Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan Marak Lauk masyarakat Sunda selalu
diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.
Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan
musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa,
yaitu bahwa kata "degung" berasal dari kata "ngadeg" (berdiri) dan
"agung" (megah) atau "pangagung" (menak; bangsawan), yang mengandung
pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan)
martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga degung
Parahyangan, menghubungkan kata "degung" dikarenakan gamelan ini dulu
hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah
"degung" pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J.
Oosting. Kata De gong (gamelan, bhs Belanda) dalam kamus ini mengandung
pengertian "penclon-penclon yang digantung".
Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan
(gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan
Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata
(Pangeran Komel), bupati Sumedang (1791-1828).
Dulu gamelan degung hanya ditabuh secara gendingan (instrumental).
Bupati Cianjur RT. Wiranatakusumah V (1912-1920) melarang degung
memakai nyanyian (vokal) karena membuat suasana kurang serius (rucah).
Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung, maka
perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa bersama
nayaganya, dipimpin oleh Bapak Idi. Sejak itu gamelan degung yang
bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan Iagu-lagunya.
Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar Pasar
Baru Bandung keturunan Palembang, Bapak Anang Thayib, merasa tertarik
untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya.
Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Oleh karena itu dia mengajukan
permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung dalam
hajatannya, dan diijinkannya. Mulai saat itulah degung digunakan dalam
hajatan (perhelatan) umum. Permohonan semacam itu semakin banyak, maka
bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi, dan terwujud
degung baru yang dinamakan Purbasasaka, dipimpin oleh Bapak Oyo.
Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas
koromong (bonang) 13 penclon, cempres (saron panjang) 11 wilah, degung
(jenglong) 6 penclon, dan goong satu buah. Kemudian
penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan
kebutuhan musikal, misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak
Idi. Gamelan degung kabupaten Bandung, bersama kesenian lain digunakan
sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng
tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut.
Sebelumnya, tahun 1918 Rd. Soerawidjaja pernah pula membuat gending
karesmen dengan musik degung, yang dipentaskan di Medan. Tahun 1926
degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia
berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh L. Heuveldrop dan G. Kruger produksi
Java Film Company, Bandung. Karya lainnya yang menggunakan degung
sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M.
Idris Sastraprawira dan Rd. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931.
Setelah Bapak Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat
perkembangannya. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak
mengakibatkan penderitaan masyarakat. Degung dibangkitkan kembali
secara serius tahun 1954 oleh Bapak Moh. Tarya, Ono Sukarna, dan E.
Tjarmedi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada, mereka
menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung
sebelumnya. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI
Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tahun
1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung
dengan iringan degung lagu palwa. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali
terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda, sehingga
dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat.
Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan
pimpinan E. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Selanjutnya E. Tjarmedi dan
jugs Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit
(sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Rahmat
Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan
nayaga wanita. Selain itu, seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata,
degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda)
sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Bapak
Oyo).
Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam
degung. Tetapi hal ini tidak berkembang. Tahun 1961 RS. Darya
Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung
dengan waditra gambang, saron, dan rebab. Kelengkapan ini untuk
mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana.
Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. Degung ini juga digunakan
untuk pirigan wayang Pakuan. Dari rekamanrekaman produksi Lokananta
(Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi
dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini.
Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro
pelog, misalnya lagu Paksi Tuwung, Kembang Kapas, dsb. Pada tahun 1964
Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada
gamelan salendro (dwi swara). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda.
Dibanding degung yang ada pads waktu itu, surupannya lebih tinggi.
Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R. Machyar. Gamelan laras
degung ini pernah dipakai untuk mengirngi gending karesmen Aki Nini
Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana.
Tahun 1970-1980-an semakin banyak yang menggarap degung, misalnya Nano
S. dengan grup Gentra Madya (1976), lingkung seni Dewi Pramanik
pimpinan Euis Komariah, degung Gapura pimpinan Kustyara, dan degung
gaya Ujang Suryana (Pakutandang, Ciparay) yang sangat populer sejak
tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas. Tak kalah
penting adalah Nano S. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan
unsur waditra kacapi dalam degungnya. Nano S. membuat lagu degung
dengan kebiasaan membuat intro dan arransemen tersendiri. Beberapa lagu
degung karya Nano S. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran, di
antaranya Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980),
Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984) dan Kalangkang yang dinyanyikan
oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986). Lagu Kalangkang ini Iebih
populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining
Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987.
Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an) dimana para penyanyi degung
berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden;
ronggeng), para penyanyi degung sekarang (sejak 1970-an) kebanyakan
berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran), baik pria
maupun wanita. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan
mamaos di antaranya Euis Komariah, Ida Widawati, Teti Afienti, Mamah
Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus Wiradiredja, Tati Saleh
dan sebagainya.
Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos (Sancang),
Sang Ban go, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang
Lontang, Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut,
Manintin, Beber Layar, Kadewan, Padayungan, dsb. Sedangkan lagulagu
degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu
rerenggongan di antaranya: Samar-samar, Kembang Ligar, Surat Ondangan,
Harking Bandung, Tepang Asih, Kalangkang, Rumaos, Bentang Kuring, dsb.
Di luar Indonesia pengembangan degung dilakukan oleh perguruan tinggi
seni dan beberapa musisi, misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda
University of California (Santa Cruz, USA), musisi Lou Harrison (USA),
dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (England),
Paraguna (Jepang), serta Evergreen, John Sidal (Kanada).
|
Salam untuk Pak Bye's Written by budis on 2009-04-02 18:19:06 Terima kasih banyak untuk comment dan masukannya dari Pak Bye's sebagai pakar musik serba bisa khususnya musik angklung dan tradisi. Kami sendiri di AWI berusaha mengumpulkan artikel dan referensi musik angklung agar memudahkan bagi siapa saja yang membutuhkan, dan tentunya sharing dan masukan dari pakar seperti Pak Bye's ini akan menambah wawasan kita semua serta memperkaya khasanah permusikan angklung dan tradisi Sunda. Tentang masukan agenda sharing coba kami upayakan dalam waktu dekat, dan kita juga menunggu sharing selanjutnya dari Pak Bye's di situs AWI ini. Demikian sekali lagi terima kasih. | Written by byes on 2009-04-02 00:35:32 kumaha upami urang sharing perkawis angklung tradisional sareng karawitan, supados, tiasa euyeub elmu |
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|