|
 |
| |
| Sunday, 05 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 195 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1717 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 0 minggu ini |  | 137 bulan ini |  | Terbaru: abudsingkong | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1719
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
PERTEMPURAN DI SEPULUH MENIT PERTAMA (dari sudut pandang pemain) |
|
|
|
Ditulis Oleh: PUTERI SOEGIRI AWI
|
|
Thursday, 21 October 2004 |
|
Dilihat dari sisi pemain, sepuluh menit pertama (dari latihan pertama)
merupakan saat untuk menilai dan mengira-ngira, seperti apakah pelatih
yang akan memimpin latihan-latihan seterusnya? Tentu pemain
menginginkan pelatih yang bisa menghargai dan dihargai, yang mengerti
materi yang akan dilatihkan, dan dapat membuat pemain percaya pada
kepemimpinannya. Berikut ini adalah beberapa hal yang, dilihat dari
sudut pandang pemain, sebaiknya diperhatikan oleh seorang pelatih.
Misalnya, latihan dijadwalkan jam 2 siang. Menurut
saya, seorang pelatih sudah harus mulai bersiap-siap sekurang-kurangnya
15 menit sebelumnya, untuk mencari ruangan (kalau tim angklung tsb
tidak memiliki ruang latihan yang tetap), mempersiapkan partitur, dan
mengatur pembagian angklung. Hal ini penting untuk diperhatikan, agar
latihan tetap dapat dimulai pada waktunya, tanpa harus molor karena
belum ada ruangan, atau karena partitur belum dipasang. Selain itu,
pemain juga akan menghormati kedisiplinan pelatihnya, dan dengan
sendirinya merasa segan dan malu untuk datang terlambat.
Pada jam 2, pelatih dapat menghargai pemain yang sudah datang tepat
waktu dengan segera memulai latihan, walaupun masih ada (atau banyak)
pemain yang belum datang. Dengan cara ini, pelatih dapat menunjukkan
konsistensinya untuk memulai latihan pada jam 2 sesuai dengan jadwal.
Para pemain juga akan merasa bahwa kata-kata pelatihnya dapat dipegang.
Latihan biasanya dimulai dengan pemanasan, yaitu menggetarkan angklung
bersama-sama. Suara getaran angklung akan terdengar keluar, dan ini
sekaligus dapat “memanggil” para pemain lain yang belum datang. Pemain
yang terlambat juga akan menyadari bahwa pelatih mereka tepat waktu,
dan mereka lain kali akan berusaha untuk tidak terlambat lagi.
Setelah pemanasan, biasanya pelatih akan mengabsen pemain dan
angklungnya. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan cepat dan padat, tanpa
bertele-tele. Kalau tidak, pemain akan merasa bahwa pelatih mereka
“longgar” dan hal ini akan merusak alur latihan yang sudah dibangun
dengan ketepatan waktu tadi. Apalagi pada latihan pertama, kelonggaran
ini sebaiknya jangan sampai muncul, karena akan merusak image pelatih.
Selesai mengabsen, pelatih sebaiknya langsung masuk ke lagu tanpa
banyak bicara lagi. Dengan langsung masuk ke lagu, pemain akan
“dipaksa” untuk berkonsentrasi memainkan angklungnya dan tidak punya
kesempatan untuk mengobrol atau melakukan hal lain yang tidak perlu.
Setelah memainkan satu bagian (sesuai dengan kebijakan pelatih) dan
para pemain sudah memberikan perhatian penuh kepada pelatihnya, barulah
pelatih menyampaikan hal-hal yang harus disampaikan.
Pelatih juga diharapkan telah mempelajari lagu yang akan dilatihkan.
Pasti sudah terpasang di pikiran pemain bahwa pelatihnya sudah
menguasai lagu, dan mereka dapat mengandalkan pelatih untuk membimbing
mereka memainkan lagu tsb. Jika ternyata pelatih masih gagap dengan
lagunya, pemain pasti langsung dapat menyadarinya, dan hal ini selain
dapat merusak alur latihan juga dapat menurunkan image pelatih di mata
pemain.
Satu hal lagi yang harus diperhatikan, yakni skenario latihan. Dengan
adanya skenario, tahap-tahap latihan akan dapat dilaksanakan dengan
baik. Pelatih juga dapat memetakan jalannya latihan, dan dengan begitu
tidak akan kebingungan, apa yang harus saya lakukan berikutnya?
Humor-humor yang ringan, cerita-cerita yang berhubungan dengan lagu
juga dapat diselipkan di dalam skenario latihan, selama tidak merusak
konsentrasi pemain. Pelatih juga dapat mempersiapkan scenario untuk
berbagai kemungkinan, agar lebih siap menghadapi latihan, termasuk
pertempuran penentu di sepuluh menit pertama. Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|