|
 |
| |
| Sunday, 05 February 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 206 guests online |
|
AWI Members |
 | 1717 registered |
 | 0 today |  | 0 this week |  | 137 this month |  | Last: abudsingkong | |
|
AWI WebStat |
Members: 1719
News: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
MELIRIK MASYARAKAT BADUY LUAR DI DESA GAJEBO (Liputan6.com, 6 Desember 2003) |
|
|
|
Written by Budi Supardiman
|
|
Saturday, 06 December 2003 |
|
Liputan6.com, Lebak: Suku Baduy di Lebak, Banten, terkenal sebagai
komunitas adat yang memegang teguh kemurnian warisan budayanya. Tapi
itu hanya berlaku di kampung Baduy dalam. Di sekelilingnya, terdapat
kampung-kampung yang sudah menerima budaya luar, seperti menggunakan
alat-alat elektronik atau pun sistem perdagangan modern. Salah satunya
adalah Desa Gajebo, Kabupaten Lebak, Banten.
Desa Gajebo bisa dicapai melalui Kampung Ciboleger, tepatnya Desa
Kenekes. Kampung yang menjadi gerbang utama ke Desa Gajebo ini terletak
sekitar 170 kilometer arah barat Kota Jakarta. Di kampung inilah,
pendatang atau wisatawan harus meminta izin untuk mengunjungi kampung
Baduy.
Perjalanan menuju Desa Gajebo cukup melelahkan. Maklum, jalur yang
tersedia hanya jalan setapak dan perbukitan. Apalagi, jalanan menjadi
licin saat musim hujan tiba. Perjalanan sejauh 2,3 kilometer bisa
ditempuh dalam waktu 45 menit.
Memasuki Desa Gajebo, wisatawan harus menyeberangi Sungai Ciujung
melewati sebuah jembatan bambu. Jembatan ini setiap tahun diganti pada
bulan tertentu dengan mengerahkan 100 hingga 150 orang. Memasuki Desa
Gajebo, bangunan lumbung padi berjejer rapi di kiri kanan jalan seolah
menyambut para pendatang.
Di siang hari, kampung tampak sepi. Sebab, sebagian besar penduduk
sedang bekerja di ladang. Yang tersisa hanya ibu-ibu yang sedang
menenun dan beberapa pandai besi pembuat golok. Suasana di malam hari
justru lebih ramai. Masyarakat biasanya berlatih angklung buhun. Seni
angklung buhun dimainkan 12 laki-laki yang biasa digelar saat hendak
menanam padi di huma. Menurut masyarakat setempat, angklung buhun
dimainkan untuk menyelaraskan perjodohan Sri Pohaci--dewi padi-- dan
bumi di ladang.
Berbeda dengan angklung buhun yang digelar pada acara khusus, warga
bermain alat musik seperti rendo, kecapi, dan suling, hampir setiap
malam. Maklum, meski tidak dilarang, alat elektronik seperti radio atau
televisi masih jarang dimiliki. Nah, berminat bukan menelusuri penduduk
Baduy Luar sambil menikmati suling khas mereka?.(ZAQ/Esther Mulyani dan
Binsar Rahadian)
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|